Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
�Gimana yah En, dia tuh udah mau pindah agama, malahan sudah belajar shalat dan menjalankan ajaran Islam lainnya. Kan awal yang bagus tuh,� tutur Eni. Wit terkesima, sejak kedatangan Eni tadi nampaknya Eni sudah kadung cinta berat sama Yosef yang akrab dipanggil Eni dengan Yusuf. Cowok atletis bertampang bule itu memang tidak mengecewakan secara fisik. Perhatian dan pengertiannya pada Eni juga tak mengecewakan.
�Emang udah kenal berapa lama?� tanya Wit akhirnya.
�Jalan satu setengah tahun.�
�Kamu sudah kenal keluarganya? Sifat-sifatnya? Sikapnya?�
�Keluarganya sih belum. Sifat dan sikapnya Insya Allah sudah. En ingin bantu dia menjauh dari kesesatan, ingin mengarahkan ia ke jalan yang lurus, dirihoi Allah. Salahkah aku?� isak Eni.
**
Menjadi agen peubah, itulah bagian terkecil dari sifat sebagian wanita. Wanita terkadang ingin orang-orang yang dikasihi, dicintainya berproses sesuai harapannya. Seperti kasus Eni misalnya, ia ingin Yusuf mualaf agar proses pernikahan dan kehidupan mereka kelak mendapat ridho Allah. Tujuan yang mulia memang. Namun terkadang tujuan mulia itu terhalang oleh rasa cinta dan kasih yang sudah lebih dulu bersemayam di hati hingga mengaburkan mata hati dan pikiran lainnya. Yang ada kemudian adalah timbulnya rasa ingin menolong, membantu, merasa bahwa dirinya (dalam hal ini Eni) sudah sanggup menjadi agen peubah bagi Yusuf. Kalau saja Eni mau bersahabat dengan hati dan pikirannya lebih dalam lagi, akan timbullah pertanyaan, �Sudah siapkah aku menjadi agen peubah? Sudah cukupkah bekalku membimbing dia yang mualaf? Apa yang aku harapkan dari dia sebenarnya? Akukah yang butuh bimbingan atau dia? dan beragam pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mesti dijawab dengan kesungguhan hati, kebijakan dan kesabaran dalam berproses.
Kalau ingin memilih, salah satu proses yang meski kita hadapi dalam memilih calon pendamping hidup, pilihlah perang batin sebelum memutuskan menerima daripada perang batin setelah menerima dia jadi calon. Mengalami perang batin sebelumnya membuat kita lebih siap dalam bersikap hingga mampu menerima apapun resiko yang kita hadapi dikemudian hari atas keputusan yang kita ambil sendiri. Perang batin juga harus diimbangi dengan upaya lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, memohon petunjuk-Nya, bersikap obyektif dalam membaca rambu-rambu yang diberikan-Nya. Rambu-rambu Allah itu bisa tersalurkan melalui pendapat-pendapat sahabat kita atau orang-orang terpercaya, bisa lewat sikap dan sifatnya baik yang tersirat maupun tersurat saat berproses, dan lain-lain.
Menikah dengan muallaf sebenarnya sah-sah saja. Namun kita mesti ingat bahwa seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga kita. Alangkah baiknya memilih suami yang lebih soleh daripada kita atau setidaknya yang kualitas kesadaran dan pengamalan agamanya setara dengan kita.
Kepemimpinan suami kepada istri dan anak-anaknya bermakna memberikan perlindungan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan memberikan pengarahan untuk selalu istiqomah di jalan keridhoan Allah.
Sebenarnya tujuan Eni berdakwah pada Yusuf itu bagus, namun bukan berarti harus menikah dengannya. Sementara keluarga yang diinginkan Eni adalah keluarga yang SAMARA (Sakinah, Mawaddah, Warahmah). Keluarga sakinah itu hanyalah terjadi jika seluruh anggotanya memiliki kepribadian yang Islami sehingga masing-masing mereka dapat merasakan kenyamanan, ketenangan, ketentraman dan kecintaan. Suasana tersebut akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga karena rumah tangga tersebut didirikan oleh suami istri yang sholeh dan sholehah yang sama-sama ingin mewujudkan pengamalan nilai-nilai Islam.
Memilih pasangan hendaknya tak sekedar mengandalkan rasa cinta dan empati belaka, tetapi atas dasar kebaikan agama dan akhlaknya. Dengan kesholehan suami ia dapat melaksanakan perannya yang lebih besar dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh anggota keluarga, ia juga dapat berperan dalam menjaga keistiqomahan, ibadah dan akhlak istri dan anak-anaknya sebagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan lahiriah.
Dalam syari�ah Islam, menikah dengan pria yang berbeda agamanya adalah haram. Sedangkan dalam undang-undang perkawinan, hukumnya tidak sah. Namun dalam pengertiannya tetaplah sama antara syari�ah Islam dan UU perkawinan di masyarakat. Hal ini sesuai dengan UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama. Artinya, bila agama (Islam) menyatakan perkawinan itu sah, maka dalam hukum Indonesia begitu juga.
Petugas KUA akan menolak pencatatan perkawinan dimana mempelainya berbeda agama. Begitu juga dengan wali ataupun saksinya (kalau mereka konsisten dengan ajaran Islam). Sehingga, apabila pernikahan tersebut tetap dilaksanakan, tidak berkekuatan hukum dan tidak mendapatkan surat nikah selamanya.
Nah bagaimana dengan pasangan-pasangan nekat seperti para artis yang menghalalkan hal itu? Mengapa mereka bisa lolos dalam berproses?
Penyelundupan hukum pun terjadi yaitu dengan cara menikah dihadapan KUA maupun Gereja, atau menikah dihadapan pegawai kantor catatan sipil dengan memanipulasi identitas, bahkan ada juga yang menikah di luar negeri yang menghalalkan pernikahan semacam ini. Yang namanya �menyelundup� tentu akan membawa dampak yang tidak baik, karena tidak ada kepastian hukum, status hukum istri dan anak.
Sungguh disayangkan hal demikian bisa terjadi, mungkin status hukum bisa diusahakan dan dibeli, lantas bagaimana dengan status agama? Bagaimana kita dimata Allah? Wallahualam bishawab.
(Qudwah, dari berbagai sumber)
kafemuslimah.com
�Emang udah kenal berapa lama?� tanya Wit akhirnya.
�Jalan satu setengah tahun.�
�Kamu sudah kenal keluarganya? Sifat-sifatnya? Sikapnya?�
�Keluarganya sih belum. Sifat dan sikapnya Insya Allah sudah. En ingin bantu dia menjauh dari kesesatan, ingin mengarahkan ia ke jalan yang lurus, dirihoi Allah. Salahkah aku?� isak Eni.
**
Menjadi agen peubah, itulah bagian terkecil dari sifat sebagian wanita. Wanita terkadang ingin orang-orang yang dikasihi, dicintainya berproses sesuai harapannya. Seperti kasus Eni misalnya, ia ingin Yusuf mualaf agar proses pernikahan dan kehidupan mereka kelak mendapat ridho Allah. Tujuan yang mulia memang. Namun terkadang tujuan mulia itu terhalang oleh rasa cinta dan kasih yang sudah lebih dulu bersemayam di hati hingga mengaburkan mata hati dan pikiran lainnya. Yang ada kemudian adalah timbulnya rasa ingin menolong, membantu, merasa bahwa dirinya (dalam hal ini Eni) sudah sanggup menjadi agen peubah bagi Yusuf. Kalau saja Eni mau bersahabat dengan hati dan pikirannya lebih dalam lagi, akan timbullah pertanyaan, �Sudah siapkah aku menjadi agen peubah? Sudah cukupkah bekalku membimbing dia yang mualaf? Apa yang aku harapkan dari dia sebenarnya? Akukah yang butuh bimbingan atau dia? dan beragam pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mesti dijawab dengan kesungguhan hati, kebijakan dan kesabaran dalam berproses.
Kalau ingin memilih, salah satu proses yang meski kita hadapi dalam memilih calon pendamping hidup, pilihlah perang batin sebelum memutuskan menerima daripada perang batin setelah menerima dia jadi calon. Mengalami perang batin sebelumnya membuat kita lebih siap dalam bersikap hingga mampu menerima apapun resiko yang kita hadapi dikemudian hari atas keputusan yang kita ambil sendiri. Perang batin juga harus diimbangi dengan upaya lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, memohon petunjuk-Nya, bersikap obyektif dalam membaca rambu-rambu yang diberikan-Nya. Rambu-rambu Allah itu bisa tersalurkan melalui pendapat-pendapat sahabat kita atau orang-orang terpercaya, bisa lewat sikap dan sifatnya baik yang tersirat maupun tersurat saat berproses, dan lain-lain.
Menikah dengan muallaf sebenarnya sah-sah saja. Namun kita mesti ingat bahwa seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga kita. Alangkah baiknya memilih suami yang lebih soleh daripada kita atau setidaknya yang kualitas kesadaran dan pengamalan agamanya setara dengan kita.
Kepemimpinan suami kepada istri dan anak-anaknya bermakna memberikan perlindungan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan memberikan pengarahan untuk selalu istiqomah di jalan keridhoan Allah.
Sebenarnya tujuan Eni berdakwah pada Yusuf itu bagus, namun bukan berarti harus menikah dengannya. Sementara keluarga yang diinginkan Eni adalah keluarga yang SAMARA (Sakinah, Mawaddah, Warahmah). Keluarga sakinah itu hanyalah terjadi jika seluruh anggotanya memiliki kepribadian yang Islami sehingga masing-masing mereka dapat merasakan kenyamanan, ketenangan, ketentraman dan kecintaan. Suasana tersebut akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga karena rumah tangga tersebut didirikan oleh suami istri yang sholeh dan sholehah yang sama-sama ingin mewujudkan pengamalan nilai-nilai Islam.
Memilih pasangan hendaknya tak sekedar mengandalkan rasa cinta dan empati belaka, tetapi atas dasar kebaikan agama dan akhlaknya. Dengan kesholehan suami ia dapat melaksanakan perannya yang lebih besar dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh anggota keluarga, ia juga dapat berperan dalam menjaga keistiqomahan, ibadah dan akhlak istri dan anak-anaknya sebagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan lahiriah.
Dalam syari�ah Islam, menikah dengan pria yang berbeda agamanya adalah haram. Sedangkan dalam undang-undang perkawinan, hukumnya tidak sah. Namun dalam pengertiannya tetaplah sama antara syari�ah Islam dan UU perkawinan di masyarakat. Hal ini sesuai dengan UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama. Artinya, bila agama (Islam) menyatakan perkawinan itu sah, maka dalam hukum Indonesia begitu juga.
Petugas KUA akan menolak pencatatan perkawinan dimana mempelainya berbeda agama. Begitu juga dengan wali ataupun saksinya (kalau mereka konsisten dengan ajaran Islam). Sehingga, apabila pernikahan tersebut tetap dilaksanakan, tidak berkekuatan hukum dan tidak mendapatkan surat nikah selamanya.
Nah bagaimana dengan pasangan-pasangan nekat seperti para artis yang menghalalkan hal itu? Mengapa mereka bisa lolos dalam berproses?
Penyelundupan hukum pun terjadi yaitu dengan cara menikah dihadapan KUA maupun Gereja, atau menikah dihadapan pegawai kantor catatan sipil dengan memanipulasi identitas, bahkan ada juga yang menikah di luar negeri yang menghalalkan pernikahan semacam ini. Yang namanya �menyelundup� tentu akan membawa dampak yang tidak baik, karena tidak ada kepastian hukum, status hukum istri dan anak.
Sungguh disayangkan hal demikian bisa terjadi, mungkin status hukum bisa diusahakan dan dibeli, lantas bagaimana dengan status agama? Bagaimana kita dimata Allah? Wallahualam bishawab.
(Qudwah, dari berbagai sumber)
kafemuslimah.com
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Polemik Pernikahan Beda Agama

�Tangisan batinku�
Apa kau tahu
Seluruh dunia terguncang
Hanya dengan satu tepukan
Tepukan dari Illahi
Gempa dimana-mana
Apa kau juga tahu
Gempa yang terjadi dalam hatiku
Hatiku yang paling dalam
Yang mengguncangkan batinku
Melebihi guncangan dunia
Apa mataku sudah buta
Atau matamu yang buta
Sehingga kau tak bisa melihat
Betapa dahsyatnya guncangan itu
Apa telingaku sudah tuli
Atau telingamu yang tuli
Sehingga kau tak bisa mendengar
Betapa kencangnya tangisan mata batinku
Apa hatiku sekeras batu
Atau hatimu yang begitu
Sehingga kau tak bisa lunak
Dengan tetesan air mataku
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Tangisan Batinku
Khutbah pertama:
????????? ????? ??????? ???????? ????????? ??????????????? ????????? ????? ???????????? ????? ???? ???????? ???????? ???????? ????? ????????????? ??????? ???????? ??????????? ????????????? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ???? ??? ?????????? ?????????????? ?????????? ????? ?????????? ???????? ???????????? ???????? ???????? ???? ?????? ?????????? ????? ???????????? ?????? ????? ??????? ??????? ????? ????????????? ?????? ?????????? ??????????? ????????? ???????????? ?????? ??????: ???????? ????????? ????????? ????? ???????? ?????????? ??? ???????? ????? ?????????? ???? ????????????
Ma�asyiral muslimin rahimakumullah, Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta�ala atas berbagai limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta�ala satu-satu-Nya yang memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta�ala semata, dan saya bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu �alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jalannya.
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan senantiasa memohon rahmat serta pertolongan-Nya. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, manusia tentu tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena manusia pada asalnya adalah makhluk yang lemah. Saat dilahirkan, dia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa serta tidak bisa memberikan manfaat bagi dirinya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta�ala berikan kepada hamba-hamba-Nya berbagai kenikmatan dan kemudahan untuk mendapatkan rezeki yang banyak dan beraneka ragam. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mensyukuri pemberian-pemberian tersebut dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Jama�ah jum�ah rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa pemberian-pemberian Allah Subhanahu wa Ta�ala yang berupa makanan, harta benda, anak, dan semisalnya merupakan ujian bagi manusia. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:
??????????? ???????? ????????????? ??????????????? ???????? ??????? ????? ???????? ?????? ???????
�Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.� (Al-Anfal: 28)
Disamping itu, Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
????? ??????? ??????? ???????? ?????????? ????????? ????????
�Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta.� (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadirin rahimakumullah,
Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Di antaranya adalah dari cara mencarinya. Dari sisi ini, sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta�ala telah mensyariatkan berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, jahat, atau menyakiti orang lain. Maka orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala tentu akan senantiasa memerhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya. Jauh dari unsur riba, judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Mereka mengetahui bahwa hal ini dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala, di antaranya dalam firman-Nya:
??????????? ????????? ????????? ??? ?????????? ????????????? ?????????? ???????????? ?????? ???? ??????? ????????? ???? ??????? ????????
�Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.� (An-Nisa�: 29)
Dengan sebab perhatian terhadap batas dan aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta�ala dalam mencarinya, maka harta yang diperoleh pun menjadi barakah. Harta yang diperolehnya akan menjadi sebab kebaikan bagi yang memilikinya, baik saat diinfakkan, disedekahkan maupun di saat hartanya nanti menjadi warisan bagi ahli warisnya. Sehingga hartanya menjadi kebaikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa, mereka tidaklah memedulikan halal atau tidaknya mata pencaharian mereka. Yang halal bagi mereka adalah segala cara yang bisa mereka lakukan, meskipun di dalamnya ada unsur penipuan, riba, judi maupun menzalimi orang lain. Sehingga hartanya pun tidak barakah dan tidak ada manfaatnya. Apabila dimakan atau diinfakkan maka dia telah memakan atau menafkahi dengan harta yang haram. Apabila disedekahkan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala. Apabila meninggal dunia, maka hartanya akan menjadi sebab masuknya dia ke dalam neraka. Nas�alullaha as-salamah (Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta�ala menyelamatkan kita dari siksa neraka).
Hadirin rahimakumullah,
Godaan karena harta ini juga bisa datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah untuk mencari dunia. Dari saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang di hatinya hanyalah mencari dunia. Bahkan saat tidurnya pun yang diimpikan adalah mencari dunia. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari dunia. Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta�ala tetapkan untuk dirinya. Maka orang yang demikian keadaannya, tentunya adalah orang yang tertipu serta terjatuh pada godaan dunia. Sehingga dia memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk dunia. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga melalaikan dia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala.
Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala,
Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu, dan yang semisalnya. Sedangkan sebagian yang lainnya atau pada sisi lainnya, justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia. Padahal Allah Subhanahu wa Ta�ala menyebutkan di dalam firman-Nya:
??????? ??? ?????????? ??????? ?????????????? ??????? ?????????? ????? ????????? ??????????. ????? ??????????????? ??????? ????????? ????????????? ??????? ???????????? ????????? ????????
�Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.� (Al-Isra�: 26-27)
Berkaitan dengan ayat ini, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dalam tafsirnya, sahabat Abdullah ibn Mas�ud radhiyallahu �anhu berkata:
?????????????: ???????????? ???? ?????? ?????
�Menghambur-hamburkan harta adalah mengeluarkannya tidak pada tempatnya.�
Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata:
???? ???????? ????????? ??????? ??????? ??? ???????? ???? ?????? ?????????? ?????? ???????? ?????? ???? ?????? ??????? ????? ???????????
�Seandainya seseorang mengeluarkan seluruh hartanya pada tempat yang benar, maka dia bukanlah seorang yang menghambur-hamburkan harta. Namun seandainya seseorang mengeluarkan satu mud/cakupan tangan (dari hartanya) untuk sesuatu yang tidak pada tempatnya, maka dia telah menghambur-hamburkan hartanya dengan sia-sia.�
Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala,
Oleh karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa banyak orang yang lebih berilmu dari kita telah terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini. Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan serta bid�ah, namun kala tergoda dengan harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan. Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya. Maka akibat adanya kemampuan untuk memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret untuk hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh, serta akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan berupaya untuk senantiasa takut dari bahaya fitnah yang ada di hadapan kita. Sikap hati-hati dan rasa takut ini, insya Allah akan menjadi sebab yang mendorong seseorang untuk berusaha mencari jalan keluar dari fitnah yang ada di hadapannya. Dengan sebab itu, dia pun akan senantiasa mengharapkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Adapun orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta�ala serta merasa aman dari ancaman dan bahaya godaan, sangat besar kemungkinannya untuk terjatuh dan terbawa oleh godaan sehingga semakin jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala.
???????? ???????? ?????? ?????????????? ????? ???? ???????? ???????????? ???????????????? ????????????????? ???????? ??????? ??????????? ???????? ?????? ??????????? ??????? ????? ?????????
Khutbah kedua:
????????? ????? ????? ??????????????? ?????????? ???? ????????? ??? ?????? ??????? ????? ??????? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ???? ???????? ???????? ???????????? ?????????? ????? ?????????? ???????? ???????????? ?????? ?????? ???????? ????????? ???????????????? ??????????? ???????????? ?????? ????? ??????? ??????? ????? ????????????? ????????? ??????????? ?????????? ?????? ??????:
Hadirin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya jalan keluar dari berbagai fitnah atau ujian. Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita sekarang berada di dalamnya adalah tempat ujian. Allah Subhanahu wa Ta�ala akan memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai kebaikan dan juga kejelekan, sehingga menjadi nampak serta terbedakanlah antara yang beriman dengan yang tidak beriman. Maka akan terus ada di muka bumi ini pertentangan dan perseteruan antara yang haq dengan yang batil, sejak diturunkan Nabi Adam �alaihissalam ke bumi, hingga waktu yang telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala. Kebatilan akan terus dibawa oleh setan dan bala tentaranya baik dari kalangan jin maupun manusia, serta terus akan ditawarkan dengan berbagai cara dan upaya. Kebatilan akan ditampilkan oleh mereka seakan-akan sebagai sesuatu yang indah. Sedangkan kebenaran akan ditampilkan seakan-akan sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Maka akan tertipulah orang-orang tidak mau mengingat Allah Subhanahu wa Ta�ala dan lalai akan kehidupan yang selamanya di akhirat kelak. Adapun kebenaran, yaitu petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya, maka akan terus dibawa oleh para ulama. Sehingga akan selamatlah orang-orang yang mendapat hidayah Allah Subhanahu wa Ta�ala karena mengikuti jejak para ulama dalam menempuh kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta�ala melalui Rasul-Nya.
Hadirin rahimakumullah,
Setiap orang yang mengetahui dirinya dalam bahaya tentunya akan berusaha mencari jalan keluar dari bahaya tersebut. Maka ketahuilah, wahai kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala, bahwa kita semuanya sedang dalam bahaya yang luar biasa besar dan sangat banyak ragamnya. Tidak ada yang bisa selamat kecuali yang mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah berupaya untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Upaya itu tidak lain adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya. Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
?????? ???????? ??????? ??? ???? ????????? ???????? ???? ????????????? ????? ??????? ?????
�Dan sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat setelahnya apabila kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah.� (HR. Muslim)
Di dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam menjelaskan bahwa berpegang teguh dengan Al-Qur�an adalah jalan keselamatan. Kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur�an berarti pula kewajiban berpegang teguh dengan Al-Hadits, karena di dalam Al-Qur�an juga ada kewajiban untuk menjalankan hadits. Dan sebaliknya, dengan berpaling dari keduanya maka seseorang akan tersesat dan tidak akan selamat dari berbagai fitnah yang akan dihadapinya. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:
????? ???????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ??????? ???????? ??????????????? ?????? ????? ?????? ???????? ??????? ????? ??????? ????? ???????. ?????? ???????? ???? ??????? ??????? ???? ????????? ??????? ???????????? ?????? ???????????? ???????. ????? ????? ???? ??????????? ??????? ?????? ?????? ????????. ????? ???????? ???????? ??????????? ???????????? ?????????? ????????? ???????
Allah berfirman (kepada Adam dan Hawa): �Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Sehingga jika datang kepadamu petunjuk-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.� Berkatalah ia: �Ya Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?� Allah berfirman: �Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, namun kamu melupakannya, maka begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan.� (Thaha: 123-126)
Maka seseorang yang ingin selamat dari godaan, dia harus berpegang teguh dengan Al-Qur�an dan As-Sunnah. Yaitu hendaknya dia senantiasa bersemangat dalam membaca dan mempelajarinya serta mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Dengan kembali dan berpegang teguh kepada keduanya, seseorang akan mengetahui bagaimana dia harus mencari harta dan bagaimana pula dia cara menginfakkannya. Dengan kembali kepada keduanya, seseorang akan tahu apa akibat dari pelanggaran terhadap batas-batas syariat Allah Subhanahu wa Ta�ala dan apa keutamaan orang yang senantiasa memerhatikan syariat dalam mendapatkan maupun menginfakkan hartanya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta�ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya dan memudahkan kita untuk senantiasa berada di atas syariat-Nya.
?????????? ????? ????????? ????? ?????????? ????????? ??????? ????? ????????????? ????????????? ??????????? ????? ????? ?????????????.
Sumber : http://asysyariah.com/
????????? ????? ??????? ???????? ????????? ??????????????? ????????? ????? ???????????? ????? ???? ???????? ???????? ???????? ????? ????????????? ??????? ???????? ??????????? ????????????? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ???? ??? ?????????? ?????????????? ?????????? ????? ?????????? ???????? ???????????? ???????? ???????? ???? ?????? ?????????? ????? ???????????? ?????? ????? ??????? ??????? ????? ????????????? ?????? ?????????? ??????????? ????????? ???????????? ?????? ??????: ???????? ????????? ????????? ????? ???????? ?????????? ??? ???????? ????? ?????????? ???? ????????????
Ma�asyiral muslimin rahimakumullah, Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta�ala atas berbagai limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta�ala satu-satu-Nya yang memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta�ala semata, dan saya bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu �alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jalannya.
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan senantiasa memohon rahmat serta pertolongan-Nya. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, manusia tentu tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena manusia pada asalnya adalah makhluk yang lemah. Saat dilahirkan, dia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa serta tidak bisa memberikan manfaat bagi dirinya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta�ala berikan kepada hamba-hamba-Nya berbagai kenikmatan dan kemudahan untuk mendapatkan rezeki yang banyak dan beraneka ragam. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mensyukuri pemberian-pemberian tersebut dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Jama�ah jum�ah rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa pemberian-pemberian Allah Subhanahu wa Ta�ala yang berupa makanan, harta benda, anak, dan semisalnya merupakan ujian bagi manusia. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:
??????????? ???????? ????????????? ??????????????? ???????? ??????? ????? ???????? ?????? ???????
�Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.� (Al-Anfal: 28)
Disamping itu, Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
????? ??????? ??????? ???????? ?????????? ????????? ????????
�Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta.� (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadirin rahimakumullah,
Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Di antaranya adalah dari cara mencarinya. Dari sisi ini, sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta�ala telah mensyariatkan berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, jahat, atau menyakiti orang lain. Maka orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala tentu akan senantiasa memerhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya. Jauh dari unsur riba, judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Mereka mengetahui bahwa hal ini dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala, di antaranya dalam firman-Nya:
??????????? ????????? ????????? ??? ?????????? ????????????? ?????????? ???????????? ?????? ???? ??????? ????????? ???? ??????? ????????
�Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.� (An-Nisa�: 29)
Dengan sebab perhatian terhadap batas dan aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta�ala dalam mencarinya, maka harta yang diperoleh pun menjadi barakah. Harta yang diperolehnya akan menjadi sebab kebaikan bagi yang memilikinya, baik saat diinfakkan, disedekahkan maupun di saat hartanya nanti menjadi warisan bagi ahli warisnya. Sehingga hartanya menjadi kebaikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa, mereka tidaklah memedulikan halal atau tidaknya mata pencaharian mereka. Yang halal bagi mereka adalah segala cara yang bisa mereka lakukan, meskipun di dalamnya ada unsur penipuan, riba, judi maupun menzalimi orang lain. Sehingga hartanya pun tidak barakah dan tidak ada manfaatnya. Apabila dimakan atau diinfakkan maka dia telah memakan atau menafkahi dengan harta yang haram. Apabila disedekahkan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala. Apabila meninggal dunia, maka hartanya akan menjadi sebab masuknya dia ke dalam neraka. Nas�alullaha as-salamah (Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta�ala menyelamatkan kita dari siksa neraka).
Hadirin rahimakumullah,
Godaan karena harta ini juga bisa datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah untuk mencari dunia. Dari saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang di hatinya hanyalah mencari dunia. Bahkan saat tidurnya pun yang diimpikan adalah mencari dunia. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari dunia. Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta�ala tetapkan untuk dirinya. Maka orang yang demikian keadaannya, tentunya adalah orang yang tertipu serta terjatuh pada godaan dunia. Sehingga dia memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk dunia. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga melalaikan dia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala.
Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala,
Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu, dan yang semisalnya. Sedangkan sebagian yang lainnya atau pada sisi lainnya, justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia. Padahal Allah Subhanahu wa Ta�ala menyebutkan di dalam firman-Nya:
??????? ??? ?????????? ??????? ?????????????? ??????? ?????????? ????? ????????? ??????????. ????? ??????????????? ??????? ????????? ????????????? ??????? ???????????? ????????? ????????
�Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.� (Al-Isra�: 26-27)
Berkaitan dengan ayat ini, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dalam tafsirnya, sahabat Abdullah ibn Mas�ud radhiyallahu �anhu berkata:
?????????????: ???????????? ???? ?????? ?????
�Menghambur-hamburkan harta adalah mengeluarkannya tidak pada tempatnya.�
Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata:
???? ???????? ????????? ??????? ??????? ??? ???????? ???? ?????? ?????????? ?????? ???????? ?????? ???? ?????? ??????? ????? ???????????
�Seandainya seseorang mengeluarkan seluruh hartanya pada tempat yang benar, maka dia bukanlah seorang yang menghambur-hamburkan harta. Namun seandainya seseorang mengeluarkan satu mud/cakupan tangan (dari hartanya) untuk sesuatu yang tidak pada tempatnya, maka dia telah menghambur-hamburkan hartanya dengan sia-sia.�
Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala,
Oleh karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa banyak orang yang lebih berilmu dari kita telah terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini. Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan serta bid�ah, namun kala tergoda dengan harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan. Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya. Maka akibat adanya kemampuan untuk memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret untuk hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh, serta akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan berupaya untuk senantiasa takut dari bahaya fitnah yang ada di hadapan kita. Sikap hati-hati dan rasa takut ini, insya Allah akan menjadi sebab yang mendorong seseorang untuk berusaha mencari jalan keluar dari fitnah yang ada di hadapannya. Dengan sebab itu, dia pun akan senantiasa mengharapkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Adapun orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta�ala serta merasa aman dari ancaman dan bahaya godaan, sangat besar kemungkinannya untuk terjatuh dan terbawa oleh godaan sehingga semakin jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala.
???????? ???????? ?????? ?????????????? ????? ???? ???????? ???????????? ???????????????? ????????????????? ???????? ??????? ??????????? ???????? ?????? ??????????? ??????? ????? ?????????
Khutbah kedua:
????????? ????? ????? ??????????????? ?????????? ???? ????????? ??? ?????? ??????? ????? ??????? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ???? ???????? ???????? ???????????? ?????????? ????? ?????????? ???????? ???????????? ?????? ?????? ???????? ????????? ???????????????? ??????????? ???????????? ?????? ????? ??????? ??????? ????? ????????????? ????????? ??????????? ?????????? ?????? ??????:
Hadirin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya jalan keluar dari berbagai fitnah atau ujian. Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita sekarang berada di dalamnya adalah tempat ujian. Allah Subhanahu wa Ta�ala akan memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai kebaikan dan juga kejelekan, sehingga menjadi nampak serta terbedakanlah antara yang beriman dengan yang tidak beriman. Maka akan terus ada di muka bumi ini pertentangan dan perseteruan antara yang haq dengan yang batil, sejak diturunkan Nabi Adam �alaihissalam ke bumi, hingga waktu yang telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala. Kebatilan akan terus dibawa oleh setan dan bala tentaranya baik dari kalangan jin maupun manusia, serta terus akan ditawarkan dengan berbagai cara dan upaya. Kebatilan akan ditampilkan oleh mereka seakan-akan sebagai sesuatu yang indah. Sedangkan kebenaran akan ditampilkan seakan-akan sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Maka akan tertipulah orang-orang tidak mau mengingat Allah Subhanahu wa Ta�ala dan lalai akan kehidupan yang selamanya di akhirat kelak. Adapun kebenaran, yaitu petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya, maka akan terus dibawa oleh para ulama. Sehingga akan selamatlah orang-orang yang mendapat hidayah Allah Subhanahu wa Ta�ala karena mengikuti jejak para ulama dalam menempuh kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta�ala melalui Rasul-Nya.
Hadirin rahimakumullah,
Setiap orang yang mengetahui dirinya dalam bahaya tentunya akan berusaha mencari jalan keluar dari bahaya tersebut. Maka ketahuilah, wahai kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala, bahwa kita semuanya sedang dalam bahaya yang luar biasa besar dan sangat banyak ragamnya. Tidak ada yang bisa selamat kecuali yang mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah berupaya untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Upaya itu tidak lain adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya. Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
?????? ???????? ??????? ??? ???? ????????? ???????? ???? ????????????? ????? ??????? ?????
�Dan sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat setelahnya apabila kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah.� (HR. Muslim)
Di dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam menjelaskan bahwa berpegang teguh dengan Al-Qur�an adalah jalan keselamatan. Kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur�an berarti pula kewajiban berpegang teguh dengan Al-Hadits, karena di dalam Al-Qur�an juga ada kewajiban untuk menjalankan hadits. Dan sebaliknya, dengan berpaling dari keduanya maka seseorang akan tersesat dan tidak akan selamat dari berbagai fitnah yang akan dihadapinya. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:
????? ???????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ??????? ???????? ??????????????? ?????? ????? ?????? ???????? ??????? ????? ??????? ????? ???????. ?????? ???????? ???? ??????? ??????? ???? ????????? ??????? ???????????? ?????? ???????????? ???????. ????? ????? ???? ??????????? ??????? ?????? ?????? ????????. ????? ???????? ???????? ??????????? ???????????? ?????????? ????????? ???????
Allah berfirman (kepada Adam dan Hawa): �Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Sehingga jika datang kepadamu petunjuk-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.� Berkatalah ia: �Ya Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?� Allah berfirman: �Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, namun kamu melupakannya, maka begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan.� (Thaha: 123-126)
Maka seseorang yang ingin selamat dari godaan, dia harus berpegang teguh dengan Al-Qur�an dan As-Sunnah. Yaitu hendaknya dia senantiasa bersemangat dalam membaca dan mempelajarinya serta mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Dengan kembali dan berpegang teguh kepada keduanya, seseorang akan mengetahui bagaimana dia harus mencari harta dan bagaimana pula dia cara menginfakkannya. Dengan kembali kepada keduanya, seseorang akan tahu apa akibat dari pelanggaran terhadap batas-batas syariat Allah Subhanahu wa Ta�ala dan apa keutamaan orang yang senantiasa memerhatikan syariat dalam mendapatkan maupun menginfakkan hartanya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta�ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya dan memudahkan kita untuk senantiasa berada di atas syariat-Nya.
?????????? ????? ????????? ????? ?????????? ????????? ??????? ????? ????????????? ????????????? ??????????? ????? ????? ?????????????.
Sumber : http://asysyariah.com/
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Peringatan dari Bahaya Godaan Harta