Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Polemik Pernikahan Beda Agama

Sabtu, 09 April 2011
Posted by Unknown
�Gimana yah En, dia tuh udah mau pindah agama, malahan sudah belajar shalat dan menjalankan ajaran Islam lainnya. Kan awal yang bagus tuh,� tutur Eni. Wit terkesima, sejak kedatangan Eni tadi nampaknya Eni sudah kadung cinta berat sama Yosef yang akrab dipanggil Eni dengan Yusuf. Cowok atletis bertampang bule itu memang tidak mengecewakan secara fisik. Perhatian dan pengertiannya pada Eni juga tak mengecewakan.

�Emang udah kenal berapa lama?� tanya Wit akhirnya.
�Jalan satu setengah tahun.�
�Kamu sudah kenal keluarganya? Sifat-sifatnya? Sikapnya?�
�Keluarganya sih belum. Sifat dan sikapnya Insya Allah sudah. En ingin bantu dia menjauh dari kesesatan, ingin mengarahkan ia ke jalan yang lurus, dirihoi Allah. Salahkah aku?� isak Eni.

**

Menjadi agen peubah, itulah bagian terkecil dari sifat sebagian wanita. Wanita terkadang ingin orang-orang yang dikasihi, dicintainya berproses sesuai harapannya. Seperti kasus Eni misalnya, ia ingin Yusuf mualaf agar proses pernikahan dan kehidupan mereka kelak mendapat ridho Allah. Tujuan yang mulia memang. Namun terkadang tujuan mulia itu terhalang oleh rasa cinta dan kasih yang sudah lebih dulu bersemayam di hati hingga mengaburkan mata hati dan pikiran lainnya. Yang ada kemudian adalah timbulnya rasa ingin menolong, membantu, merasa bahwa dirinya (dalam hal ini Eni) sudah sanggup menjadi agen peubah bagi Yusuf. Kalau saja Eni mau bersahabat dengan hati dan pikirannya lebih dalam lagi, akan timbullah pertanyaan, �Sudah siapkah aku menjadi agen peubah? Sudah cukupkah bekalku membimbing dia yang mualaf? Apa yang aku harapkan dari dia sebenarnya? Akukah yang butuh bimbingan atau dia? dan beragam pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mesti dijawab dengan kesungguhan hati, kebijakan dan kesabaran dalam berproses.

Kalau ingin memilih, salah satu proses yang meski kita hadapi dalam memilih calon pendamping hidup, pilihlah perang batin sebelum memutuskan menerima daripada perang batin setelah menerima dia jadi calon. Mengalami perang batin sebelumnya membuat kita lebih siap dalam bersikap hingga mampu menerima apapun resiko yang kita hadapi dikemudian hari atas keputusan yang kita ambil sendiri. Perang batin juga harus diimbangi dengan upaya lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, memohon petunjuk-Nya, bersikap obyektif dalam membaca rambu-rambu yang diberikan-Nya. Rambu-rambu Allah itu bisa tersalurkan melalui pendapat-pendapat sahabat kita atau orang-orang terpercaya, bisa lewat sikap dan sifatnya baik yang tersirat maupun tersurat saat berproses, dan lain-lain.

Menikah dengan muallaf sebenarnya sah-sah saja. Namun kita mesti ingat bahwa seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga kita. Alangkah baiknya memilih suami yang lebih soleh daripada kita atau setidaknya yang kualitas kesadaran dan pengamalan agamanya setara dengan kita.

Kepemimpinan suami kepada istri dan anak-anaknya bermakna memberikan perlindungan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan memberikan pengarahan untuk selalu istiqomah di jalan keridhoan Allah.

Sebenarnya tujuan Eni berdakwah pada Yusuf itu bagus, namun bukan berarti harus menikah dengannya. Sementara keluarga yang diinginkan Eni adalah keluarga yang SAMARA (Sakinah, Mawaddah, Warahmah). Keluarga sakinah itu hanyalah terjadi jika seluruh anggotanya memiliki kepribadian yang Islami sehingga masing-masing mereka dapat merasakan kenyamanan, ketenangan, ketentraman dan kecintaan. Suasana tersebut akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga karena rumah tangga tersebut didirikan oleh suami istri yang sholeh dan sholehah yang sama-sama ingin mewujudkan pengamalan nilai-nilai Islam.

Memilih pasangan hendaknya tak sekedar mengandalkan rasa cinta dan empati belaka, tetapi atas dasar kebaikan agama dan akhlaknya. Dengan kesholehan suami ia dapat melaksanakan perannya yang lebih besar dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh anggota keluarga, ia juga dapat berperan dalam menjaga keistiqomahan, ibadah dan akhlak istri dan anak-anaknya sebagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan lahiriah.

Dalam syari�ah Islam, menikah dengan pria yang berbeda agamanya adalah haram. Sedangkan dalam undang-undang perkawinan, hukumnya tidak sah. Namun dalam pengertiannya tetaplah sama antara syari�ah Islam dan UU perkawinan di masyarakat. Hal ini sesuai dengan UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama. Artinya, bila agama (Islam) menyatakan perkawinan itu sah, maka dalam hukum Indonesia begitu juga.

Petugas KUA akan menolak pencatatan perkawinan dimana mempelainya berbeda agama. Begitu juga dengan wali ataupun saksinya (kalau mereka konsisten dengan ajaran Islam). Sehingga, apabila pernikahan tersebut tetap dilaksanakan, tidak berkekuatan hukum dan tidak mendapatkan surat nikah selamanya.

Nah bagaimana dengan pasangan-pasangan nekat seperti para artis yang menghalalkan hal itu? Mengapa mereka bisa lolos dalam berproses?

Penyelundupan hukum pun terjadi yaitu dengan cara menikah dihadapan KUA maupun Gereja, atau menikah dihadapan pegawai kantor catatan sipil dengan memanipulasi identitas, bahkan ada juga yang menikah di luar negeri yang menghalalkan pernikahan semacam ini. Yang namanya �menyelundup� tentu akan membawa dampak yang tidak baik, karena tidak ada kepastian hukum, status hukum istri dan anak.

Sungguh disayangkan hal demikian bisa terjadi, mungkin status hukum bisa diusahakan dan dibeli, lantas bagaimana dengan status agama? Bagaimana kita dimata Allah? Wallahualam bishawab.

(Qudwah, dari berbagai sumber)


kafemuslimah.com



KOMENTAR ANDA SANGAT BERMANFAAT BAGI PERKEMBANGAN BLOG INI
Description: Polemik Pernikahan Beda Agama
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Polemik Pernikahan Beda Agama

Tangisan Batinku

Rabu, 06 April 2011
Posted by Unknown





�Tangisan batinku�



Apa kau tahu
Seluruh dunia terguncang
Hanya dengan satu tepukan
Tepukan dari Illahi
Gempa dimana-mana
Apa kau juga tahu
Gempa yang terjadi dalam hatiku
Hatiku yang paling dalam
Yang mengguncangkan batinku
Melebihi guncangan dunia
Apa mataku sudah buta
Atau matamu yang buta
Sehingga kau tak bisa melihat
Betapa dahsyatnya guncangan itu
Apa telingaku sudah tuli
Atau telingamu yang tuli
Sehingga kau tak bisa mendengar
Betapa kencangnya tangisan mata batinku
Apa hatiku sekeras batu
Atau hatimu yang begitu
Sehingga kau tak bisa lunak
Dengan tetesan air mataku






KOMENTAR ANDA SANGAT BERMANFAAT BAGI PERKEMBANGAN BLOG INI
Description: Tangisan Batinku
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Tangisan Batinku

Peringatan dari Bahaya Godaan Harta

Sabtu, 07 Agustus 2010
Posted by Unknown
Khutbah pertama:

????????? ????? ??????? ???????? ????????? ??????????????? ????????? ????? ???????????? ????? ???? ???????? ???????? ???????? ????? ????????????? ??????? ???????? ??????????? ????????????? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ???? ??? ?????????? ?????????????? ?????????? ????? ?????????? ???????? ???????????? ???????? ???????? ???? ?????? ?????????? ????? ???????????? ?????? ????? ??????? ??????? ????? ????????????? ?????? ?????????? ??????????? ????????? ???????????? ?????? ??????: ???????? ????????? ????????? ????? ???????? ?????????? ??? ???????? ????? ?????????? ???? ????????????

Ma�asyiral muslimin rahimakumullah, Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta�ala atas berbagai limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta�ala satu-satu-Nya yang memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta�ala semata, dan saya bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu �alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jalannya.

Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan senantiasa memohon rahmat serta pertolongan-Nya. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, manusia tentu tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena manusia pada asalnya adalah makhluk yang lemah. Saat dilahirkan, dia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa serta tidak bisa memberikan manfaat bagi dirinya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta�ala berikan kepada hamba-hamba-Nya berbagai kenikmatan dan kemudahan untuk mendapatkan rezeki yang banyak dan beraneka ragam. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mensyukuri pemberian-pemberian tersebut dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Jama�ah jum�ah rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa pemberian-pemberian Allah Subhanahu wa Ta�ala yang berupa makanan, harta benda, anak, dan semisalnya merupakan ujian bagi manusia. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

??????????? ???????? ????????????? ??????????????? ???????? ??????? ????? ???????? ?????? ???????

�Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.� (Al-Anfal: 28)
Disamping itu, Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
????? ??????? ??????? ???????? ?????????? ????????? ????????
�Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta.� (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadirin rahimakumullah,
Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Di antaranya adalah dari cara mencarinya. Dari sisi ini, sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta�ala telah mensyariatkan berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, jahat, atau menyakiti orang lain. Maka orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala tentu akan senantiasa memerhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya. Jauh dari unsur riba, judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Mereka mengetahui bahwa hal ini dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala, di antaranya dalam firman-Nya:

??????????? ????????? ????????? ??? ?????????? ????????????? ?????????? ???????????? ?????? ???? ??????? ????????? ???? ??????? ????????

�Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.� (An-Nisa�: 29)
Dengan sebab perhatian terhadap batas dan aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta�ala dalam mencarinya, maka harta yang diperoleh pun menjadi barakah. Harta yang diperolehnya akan menjadi sebab kebaikan bagi yang memilikinya, baik saat diinfakkan, disedekahkan maupun di saat hartanya nanti menjadi warisan bagi ahli warisnya. Sehingga hartanya menjadi kebaikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa, mereka tidaklah memedulikan halal atau tidaknya mata pencaharian mereka. Yang halal bagi mereka adalah segala cara yang bisa mereka lakukan, meskipun di dalamnya ada unsur penipuan, riba, judi maupun menzalimi orang lain. Sehingga hartanya pun tidak barakah dan tidak ada manfaatnya. Apabila dimakan atau diinfakkan maka dia telah memakan atau menafkahi dengan harta yang haram. Apabila disedekahkan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala. Apabila meninggal dunia, maka hartanya akan menjadi sebab masuknya dia ke dalam neraka. Nas�alullaha as-salamah (Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta�ala menyelamatkan kita dari siksa neraka).

Hadirin rahimakumullah,
Godaan karena harta ini juga bisa datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah untuk mencari dunia. Dari saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang di hatinya hanyalah mencari dunia. Bahkan saat tidurnya pun yang diimpikan adalah mencari dunia. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari dunia. Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta�ala tetapkan untuk dirinya. Maka orang yang demikian keadaannya, tentunya adalah orang yang tertipu serta terjatuh pada godaan dunia. Sehingga dia memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk dunia. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga melalaikan dia dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala.

Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala,
Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu, dan yang semisalnya. Sedangkan sebagian yang lainnya atau pada sisi lainnya, justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia. Padahal Allah Subhanahu wa Ta�ala menyebutkan di dalam firman-Nya:

??????? ??? ?????????? ??????? ?????????????? ??????? ?????????? ????? ????????? ??????????. ????? ??????????????? ??????? ????????? ????????????? ??????? ???????????? ????????? ????????

�Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.� (Al-Isra�: 26-27)
Berkaitan dengan ayat ini, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dalam tafsirnya, sahabat Abdullah ibn Mas�ud radhiyallahu �anhu berkata:
?????????????: ???????????? ???? ?????? ?????
�Menghambur-hamburkan harta adalah mengeluarkannya tidak pada tempatnya.�
Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata:
???? ???????? ????????? ??????? ??????? ??? ???????? ???? ?????? ?????????? ?????? ???????? ?????? ???? ?????? ??????? ????? ???????????
�Seandainya seseorang mengeluarkan seluruh hartanya pada tempat yang benar, maka dia bukanlah seorang yang menghambur-hamburkan harta. Namun seandainya seseorang mengeluarkan satu mud/cakupan tangan (dari hartanya) untuk sesuatu yang tidak pada tempatnya, maka dia telah menghambur-hamburkan hartanya dengan sia-sia.�

Hadirin yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala,
Oleh karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa banyak orang yang lebih berilmu dari kita telah terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini. Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan serta bid�ah, namun kala tergoda dengan harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan. Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya. Maka akibat adanya kemampuan untuk memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret untuk hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh, serta akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan berupaya untuk senantiasa takut dari bahaya fitnah yang ada di hadapan kita. Sikap hati-hati dan rasa takut ini, insya Allah akan menjadi sebab yang mendorong seseorang untuk berusaha mencari jalan keluar dari fitnah yang ada di hadapannya. Dengan sebab itu, dia pun akan senantiasa mengharapkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Adapun orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta�ala serta merasa aman dari ancaman dan bahaya godaan, sangat besar kemungkinannya untuk terjatuh dan terbawa oleh godaan sehingga semakin jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala.
???????? ???????? ?????? ?????????????? ????? ???? ???????? ???????????? ???????????????? ????????????????? ???????? ??????? ??????????? ???????? ?????? ??????????? ??????? ????? ?????????

Khutbah kedua:
????????? ????? ????? ??????????????? ?????????? ???? ????????? ??? ?????? ??????? ????? ??????? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ???? ???????? ???????? ???????????? ?????????? ????? ?????????? ???????? ???????????? ?????? ?????? ???????? ????????? ???????????????? ??????????? ???????????? ?????? ????? ??????? ??????? ????? ????????????? ????????? ??????????? ?????????? ?????? ??????:
Hadirin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya jalan keluar dari berbagai fitnah atau ujian. Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta�ala dan senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita sekarang berada di dalamnya adalah tempat ujian. Allah Subhanahu wa Ta�ala akan memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai kebaikan dan juga kejelekan, sehingga menjadi nampak serta terbedakanlah antara yang beriman dengan yang tidak beriman. Maka akan terus ada di muka bumi ini pertentangan dan perseteruan antara yang haq dengan yang batil, sejak diturunkan Nabi Adam �alaihissalam ke bumi, hingga waktu yang telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala. Kebatilan akan terus dibawa oleh setan dan bala tentaranya baik dari kalangan jin maupun manusia, serta terus akan ditawarkan dengan berbagai cara dan upaya. Kebatilan akan ditampilkan oleh mereka seakan-akan sebagai sesuatu yang indah. Sedangkan kebenaran akan ditampilkan seakan-akan sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Maka akan tertipulah orang-orang tidak mau mengingat Allah Subhanahu wa Ta�ala dan lalai akan kehidupan yang selamanya di akhirat kelak. Adapun kebenaran, yaitu petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya, maka akan terus dibawa oleh para ulama. Sehingga akan selamatlah orang-orang yang mendapat hidayah Allah Subhanahu wa Ta�ala karena mengikuti jejak para ulama dalam menempuh kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta�ala melalui Rasul-Nya.

Hadirin rahimakumullah,
Setiap orang yang mengetahui dirinya dalam bahaya tentunya akan berusaha mencari jalan keluar dari bahaya tersebut. Maka ketahuilah, wahai kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta�ala, bahwa kita semuanya sedang dalam bahaya yang luar biasa besar dan sangat banyak ragamnya. Tidak ada yang bisa selamat kecuali yang mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah berupaya untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Upaya itu tidak lain adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta�ala yang telah diturunkan melalui Rasul-Nya. Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
?????? ???????? ??????? ??? ???? ????????? ???????? ???? ????????????? ????? ??????? ?????
�Dan sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat setelahnya apabila kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah.� (HR. Muslim)
Di dalam hadits tersebut, Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam menjelaskan bahwa berpegang teguh dengan Al-Qur�an adalah jalan keselamatan. Kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur�an berarti pula kewajiban berpegang teguh dengan Al-Hadits, karena di dalam Al-Qur�an juga ada kewajiban untuk menjalankan hadits. Dan sebaliknya, dengan berpaling dari keduanya maka seseorang akan tersesat dan tidak akan selamat dari berbagai fitnah yang akan dihadapinya. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

????? ???????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ??????? ???????? ??????????????? ?????? ????? ?????? ???????? ??????? ????? ??????? ????? ???????. ?????? ???????? ???? ??????? ??????? ???? ????????? ??????? ???????????? ?????? ???????????? ???????. ????? ????? ???? ??????????? ??????? ?????? ?????? ????????. ????? ???????? ???????? ??????????? ???????????? ?????????? ????????? ???????

Allah berfirman (kepada Adam dan Hawa): �Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Sehingga jika datang kepadamu petunjuk-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.� Berkatalah ia: �Ya Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?� Allah berfirman: �Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, namun kamu melupakannya, maka begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan.� (Thaha: 123-126)
Maka seseorang yang ingin selamat dari godaan, dia harus berpegang teguh dengan Al-Qur�an dan As-Sunnah. Yaitu hendaknya dia senantiasa bersemangat dalam membaca dan mempelajarinya serta mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Dengan kembali dan berpegang teguh kepada keduanya, seseorang akan mengetahui bagaimana dia harus mencari harta dan bagaimana pula dia cara menginfakkannya. Dengan kembali kepada keduanya, seseorang akan tahu apa akibat dari pelanggaran terhadap batas-batas syariat Allah Subhanahu wa Ta�ala dan apa keutamaan orang yang senantiasa memerhatikan syariat dalam mendapatkan maupun menginfakkan hartanya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta�ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya dan memudahkan kita untuk senantiasa berada di atas syariat-Nya.
?????????? ????? ????????? ????? ?????????? ????????? ??????? ????? ????????????? ????????????? ??????????? ????? ????? ?????????????.


Sumber : http://asysyariah.com/
Description: Peringatan dari Bahaya Godaan Harta
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Peringatan dari Bahaya Godaan Harta
Sesuatu yang tak dapat dihindari dalam hidup bermasyarakat adalah kehidupan bertetangga. Karena yang kita harapkan adalah hidup bermasyarakat dengan tenteram dan damai, tentunya kita juga harus hidup dengan tenteram dan damai bersama tetangga kita. Alangkah nyaman hidup bersama tetangga yang baik. Sebaliknya, alangkah sempitnya hidup bersama tetangga yang jelek, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam, yang dinukil oleh Isma�il bin Muhammad bin Sa�d bin Abi Waqqash, dari ayahnya, dari kakeknya:
???????? ???? ????????????: ??????????? ????????????? ????????????? ??????????? ?????????? ??????????? ????????????? ??????????? ?????????? ???? ??????????: ???????? ?????????? ????????????? ?????????? ????????????? ?????????? ????????????? ??????????
�Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.� (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 1232 dan Al-Khathib dalam At-Tarikh 12/99. Al-Imam Al-Albani mengatakan dalam Ash-Shahihah no. 282: �Ini adalah sanad yang shahih menurut syarat Syaikhain/Al-Bukhari dan Muslim.�)
Di dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah Subhanahu wa Ta�ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat baik kepada tetangga. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

??????????? ????? ????? ?????????? ???? ??????? ?????????????????? ?????????? ??????? ?????????? ????????????? ??????????????? ?????????? ??? ?????????? ?????????? ????????? ???????????? ??????????? ??????? ?????????? ????? ???????? ????????????? ????? ????? ??? ??????? ???? ????? ?????????? ????????

�Dan sembahlah Allah, dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.� (An-Nisa�: 36)
Betapa pentingnya berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai Jibril u menekankan dalam wasiatnya kepada Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam. Ummul Mukminin �Aisyah radhiyallahu �anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam pernah bersabda:
??? ????? ?????????? ???????????? ?????????? ?????? ???????? ??????? ?????????????
�Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan dijadikan sebagai ahli waris.� (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2624)
Bahkan beliau Shallallahu �alaihi wa sallam mengancam keras orang yang mengganggu tetangganya dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu �anhu:
??????? ??? ????????? ??????? ??? ????????? ??????? ??? ????????. ??????: ???? ??? ???????? ?????? ?????: ??????? ??? ???????? ??????? ???????????
�Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!� Beliau pun ditanya, �Siapa, wahai Rasulullah?� Jawab beliau, �Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.� (HR. Al-Bukhari no. 6016)
Dalam riwayat Al-Imam Muslim:
??? ???????? ?????????? ???? ??? ???????? ??????? ???????????
�Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.� (HR. Muslim no. 46)
Kita adalah sosok yang telah dewasa. Akal kita telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk menurut pandangan syariat, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Namun tidak demikian dengan anak-anak kita. Sehingga justru kadang gangguan terhadap tetangga datang dari ulah anak-anak kita. Mungkin dengan teriakan-teriakannya, mungkin dengan tingkah lakunya yang mengganggu, kurang adabnya mereka, dan sebagainya.
Untuk itu, semestinya kita mengajari mereka tentang adab-adab bertetangga, agar anak-anak kita pun mengerti bahwa tetangga adalah orang-orang yang harus dihormati dan dihargai, serta terlarang untuk disakiti.

Menjelaskan terlarangnya mengganggu tetangga
Memberi penjelasan kepada anak-anak tentang sesuatu yang harus dilakukan atau dihindari dalam agama merupakan suatu hal yang penting. Ini akan memberikan motivasi kepada si anak untuk menjalankannya. Karena itu, penting pula kita jelaskan kepada anak-anak bahwa Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam menyuruh kita untuk berbuat baik kepada tetangga kita. Beliau pun melarang kita mengganggu mereka, sebagaimana dalam sabda beliau di atas.
Asy-Syaikh Al-�Utsaimin rahimahullahu menjelaskan bahwa sabda beliau Shallallahu �alaihi wa sallam itu menunjukkan haramnya memusuhi tetangga, baik dengan ucapan ataupun perbuatan. Dengan ucapan, artinya tetangga mendengar segala sesuatu yang mengganggu dan merisaukannya, seperti memutar radio, televisi, atau yang lainnya sehingga mengganggu tetangga. Ini tak boleh dilakukan. Memutar bacaan Kitabullah sekalipun, kalau suaranya mengganggu tetangga, maka ini termasuk sikap memusuhi tetangga, sehingga tak boleh dilakukan.
Adapun dengan perbuatan, seperti membuang sampah di sekitar pintu rumah tetangga, menyempitkan jalan masuk ke rumahnya, mengetuk-ngetuk pintunya, dan perbuatan lainnya yang memadharatkan tetangga. Termasuk pula jika dia memiliki tanaman di sekitar tembok tetangganya yang pengairannya mengganggu tetangga. Ini pun termasuk gangguan terhadap tetangga, sehingga tak boleh dilakukan.
Dengan demikian, diharamkan mengganggu tetangga dengan gangguan apapun. Kalau dia lakukan hal ini, maka dia bukanlah seorang mukmin. Maknanya, dia tidak bersifat dengan sifat-sifat kaum mukminin dalam permasalahan yang menyelisih kebenaran ini. (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/203)
Perlu pula kita jelaskan pada anak-anak bahwa mengganggu tetangga bisa menjerumuskan seseorang ke neraka. Sebaliknya, berbuat baik kepada tetangga bisa mengantarkan seseorang ke surga. Abu Hurairah radhiyallahu �anhu menceritakan:
?????? ??????????? ??? ???? ???? ????: ??? ???????? ?????? ????? ????????? ???????? ????????? ?????????? ?????????? ?????????? ???????????? ????????? ???????????? ????????????. ??????? ??????? ????? ??? ???? ???? ????: ??? ?????? ???????? ???? ???? ?????? ????????. ???????: ??????????? ???????? ??????????????? ??????????? ?????????? (???? ?????????)? ????? ??????? ???????. ??????? ???????? ????? ??? ???? ???? ????: ???? ???? ?????? ??????????
Nabi pernah ditanya, �Wahai Rasulullah, si Fulanah itu biasa shalat malam, puasa di siang hari, melakukan kebaikan demikian, dan bersedekah, tapi dia suka mengganggu tetangga dengan lisannya.� Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam pun bersabda, �Dia tidak punya kebaikan. Dia termasuk penduduk neraka.� Para sahabat bertanya lagi, �Sementara si Fulanah (wanita yang lain) hanya menjalankan shalat wajib, bersedekah hanya dengan sepotong keju, tapi tak pernah mengganggu siapa pun.� Rasulullah menyatakan, �Dia termasuk penduduk surga.� (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 119, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 180 bahwa isnadnya shahih)

Memberikan makanan kepada tetangga
Kadang terjadi, anak-anak memakan makanan yang dibawa dari rumah di hadapan anak-anak tetangga tanpa membaginya. Mereka biarkan teman-temannya menatap penuh selera tanpa bisa merasakannya. Terkadang yang seperti ini jadi biang keributan, karena si teman merengek pada orangtuanya yang mungkin saja tak mampu membelikan makanan serupa dengan segera. Atau bahkan terjadi pertengkaran gara-gara si teman tak bisa menahan dirinya sehingga meminta dengan paksa.
Amatlah terpuji jika anak terbiasa membagi makanan dengan anak-anak tetangga. Begitu pula kita bisa melatih mereka untuk memberikan makanan yang kita miliki kepada tetangga.
Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam pernah memerintahkan hal ini kepada Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu �anhu:
??? ????? ?????? ????? ???????? ???????? ?????????? ????????? ??????????? ???????????
�Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak makanan berkuah, perbanyak airnya, lalu bagi-bagikan ke tetanggamu!� (HR. Muslim no. 2625)
Demikian pula jika kita memiliki makanan lain selain makanan berkuah, minuman �seperti kelebihan susu perahan misalnya� dan sebagainya, maka selayaknya kita membaginya kepada para tetangga, karena ini adalah hak mereka. (Syarh Riyadhish Shalihin 2/203)
Terlebih lagi jika tetangga kita dalam keadaan kekurangan dan kelaparan, mestinya kita lebih memerhatikannya. Ibnu �Abbas radhiyallahu �anhuma pernah memberitahu Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu �anhuma bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
?????? ??????????? ??????? ???????? ????????? ???????
�Bukanlah seseorang yang sempurna imannya orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.� (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 82)

Melarang anak-anak mengambil barang milik tetangga
Terkadang ada anak yang membawa mainan yang bukan miliknya sepulang dari bermain dengan anak tetangga. Setelah ditelusuri, dia mengambil mainan milik teman yang dia inginkan. Ada pula yang mengambil buah dari pohon tetangga tanpa seizin pemiliknya. Ini semua adalah contoh perilaku tak terpuji yang bisa terjadi pada anak-anak.
Karena itu, anak perlu disadarkan bahwa mengambil barang orang lain tanpa izin atau mencuri adalah suatu hal yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta�ala dan Rasul-Nya Shallallahu �alaihi wa sallam melarang keras akan hal ini. Lebih-lebih lagi mencuri milik tetangga, ini lebih besar lagi keharamannya.
Al-Miqdad ibnul Aswad radhiyallahu �anhu mengisahkan:
?????? ???????? ????? ??? ???? ???? ???? ??????????? ???? ????????? ???????: ??????? ????????? ????? ????????????. ???????: ?????? ???????? ????????? ???????? ???????? ???????? ???????? ???? ???? ???????? ??????????? ???????. ???????????? ???? ???????????? ???????: ???????? ????????? ????? ????????????. ???????: ?????? ???????? ???? ???????? ?????? ????????? ???????? ???????? ???? ???? ???????? ???? ?????? ???????
Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat beliau tentang zina. Para sahabat menjawab, �Haram, diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.� Lalu beliau bersabda, �Seseorang berzina dengan sepuluh orang wanita lebih ringan daripada berzina dengan istri tetangganya.� Kemudian beliau bertanya kepada para sahabat tentang mencuri. Para sahabat menjawab, �Haram, diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala dan Rasul-Nya.� Lalu beliau menyatakan, �Seseorang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan daripada mencuri dari rumah tetangganya.� (HR. Al- Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 103, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 76)
Dengan mengajarkan adab-adab ini kepada anak-anak, diharapkan mereka tidak membuat berbagai ulah yang akan mengganggu atau bahkan merugikan tetangga. Begitu pula kita akan terjaga dari ancaman mengganggu tetangga, sekalipun gangguan itu bukan langsung berasal dari perbuatan kita melainkan dari tingkah polah anak-anak kita. Mudah-mudahan dengan itu kita dapat mewujudkan perintah Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Syuraih Al-Khuza�i radhiyallahu �anhu:
???? ????? ???????? ??????? ??????????? ???????? ???????????? ????? ???????
�Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya.� (HR. Muslim no. 47)

Wallahu ta�ala a�lamu bish-shawab.

Sumber : http://asysyariah.com/
Description: Belajar Menghormati Tetangga
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Belajar Menghormati Tetangga
Di awal surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta�ala menyebutkan tiga golongan manusia:
1. Kaum mukminin
2. Orang-orang kafir
3. Orang-orang munafik
Allah Subhanahu wa Ta�ala membeberkan kepada kaum mukminin di dalam ayat-ayat tersebut tentang kebusukan hati orang-orang munafik dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta�ala menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan namun mengklaim sebagai orang yang melakukan perbaikan:

??????? ????? ?????? ??? ?????????? ??? ????????? ??????? ???????? ?????? ???????????. ????? ????????? ???? ?????????????? ???????? ??? ???????????

Apabila dikatakan kepada mereka, �Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.� Maka mereka berkata, �Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.� Ketahuilah, mereka adalah umat yang melakukan kerusakan namun mereka tidak mengetahuinya. (Al-Baqarah: 11-12)
Mereka adalah orang-orang dungu. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

??????? ????? ?????? ????????? ????? ??????? ???????? ??????? ?????????? ????? ??????? ???????????? ????? ????????? ???? ???????????? ???????? ??? ???????????

Apabila dikatakan kepada mereka, �Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.� Mereka menjawab, �Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?� Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh (dungu), tetapi mereka tidak tahu. (Al-Baqarah: 13)
Allah Subhanahu wa Ta�ala akan memperolok mereka:

??????? ???????????? ?????? ????????????? ??? ????????????? ???????????

�Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.� (Al-Baqarah: 15)
Di antara bentuk balasan dari Allah Subhanahu wa Ta�ala adalah ketika di hari kiamat nanti, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

?????? ????? ?????????????? ???????????????? ??????? ????????? ?????? ??????????? ????????????????? ??????????? ????????? ???????? ??????? ???? ????????? ???????????? ?????????? ?????? ?????? ???? ????????? ??????????. ?????? ??????? ??????????????? ????????????????? ?????????? ????????? ??????????? ?????????? ???? ????????? ????? ????????? ??????????? ????????????? ?????? ???????? ?????????? ??????? ???? ????? ????????? ????? ??????????? ??????????? ???? ???????? ??????????. ?????????????? ?????? ?????? ???????? ??????? ????? ????????????? ?????????? ???????????? ??????????????? ????????????? ????????????? ????????????? ?????? ????? ?????? ????? ??????????? ????????? ??????????

(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka): �Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.� Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: �Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.� Dikatakan (kepada mereka): �Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).� Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu, di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: �Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?� Mereka menjawab: �Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah, dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.� (Al-Hadid: 12-14)
Di dalam ayat-ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta�ala mengancam orang-orang munafikin dengan ancaman yang keras. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

?????? ?????????? ??????? ???? ????????? ????? ??????????? ??????? ???? ????? ????????? ???????? ?????? ?????? ????????? ??????????

�Tidakkah mereka (orang-orang munafik) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya maka bagi dia neraka jahanam. Dia kekal di dalamnya dan itu adalah kehinaan yang besar.� (At-Taubah: 63)
Di dalam ayat yang lain:

?????? ????? ??????????????? ????????????????? ????????????? ????? ????????? ?????????? ??????

�Allah mengancam orang-orang munafik yang laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya.� (At-Taubah: 68)
Kelak mereka akan ada di kerak neraka yang terbawah:

????? ??????????????? ??? ????????? ??????????? ???? ???????? ?????? ?????? ?????? ????????

�Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.� (An-Nisa: 145)
Banyak lagi nash dalam Al-Qur�an dan As-Sunnah yang menunjukkan keburukan orang-orang munafik dan ancaman bagi mereka. Sehingga seyogianya bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari mereka dan juga menjauhi sifat-sifat mereka.

Pengertian nifaq (kemunafikan)
Kemunafikan adalah menyembunyikan kebatilan dan menampakkan kebaikan. Kemunafikan adalah penyakit hati yang berbahaya. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

??? ??????????? ?????? ??????????? ????? ??????? ???????? ??????? ??????? ????? ??????? ???????????

�Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.� (Al-Baqarah: 10)

Jenis nifaq (kemunafikan)
Ada dua jenis, yakni nifaq akbar (kemunafikan besar) dan nifaq asghar (kemunafikan kecil). Kemunafikan akbar yang disebut juga kemunafikan i�tiqadi (keyakinan) adalah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman. Kemunafikan ini mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Kemunafikan asghar yang disebut pula kemunafikan amali (amalan) adalah menampakkan lahiriah yang baik dan menyembunyikan kebalikannya. Pokok kemunafikan asghar kembali kepada lima perkara: Sering berdusta ketika berbicara, sering tidak menepati janji, jika berselisih melampaui batas, jika melakukan perjanjian melanggarnya, dan sering khianat jika diberi amanah.
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: �Kesimpulannya, kemunafikan asghar semuanya kembali kepada berbedanya seseorang ketika sedang sendiri dan ketika terlihat (bersama) orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri rahimahullahu.� (Lihat Jami�ul �Ulum wal Hikam hal. 747)

Perbedaan kemunafikan kecil dan kemunafikan besar
Di antara perbedaan antara keduanya adalah:
1. Kemunafikan akbar pelakunya keluar dari Islam, adapun kemunafikan asghar tidak mengeluarkan dari Islam.
2. Kemunafikan akbar tidak mungkin bersatu dengan keimanan, adapun kemunafikan asghar mungkin ada pada seorang yang beriman.
3. Kemunafikan akbar pelakunya kekal di neraka, sedangkan kemunafikan asghar pelakunya tidak kekal di neraka.
(Lihat Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Bahaya kemunafikan asghar
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: �Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati, demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.� (Lihat Jami�ul �Ulum wal Hikam)

Orang beriman senantiasa khawatir terjatuh ke dalam kemunafikan
Ibnu Mulaikah rahimahullahu berkata: �Aku mendapati tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam, semuanya mengkhawatirkan kemunafikan atas dirinya.�
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu �anhu sampai bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu �anhu, apakah dirinya termasuk yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam sebagai orang munafik.
Sebagian ulama menyatakan: �Tidak ada yang takut dari kemunafikan kecuali mukmin, dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali munafik.� (dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu)
Al-Imam Ahmad rahimahullahu ditanya, �Apa pendapatmu tentang orang yang mengkhawatirkan atas dirinya kemunafikan?� Beliau menjawab, �Siapa yang merasa dirinya aman dari kemunafikan?� (Lihat Jami�ul �Ulum wal Hikam)

Jauhi sifat-sifat munafik
Kami akan sebutkan beberapa sifat kemunafikan amali yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam, karena kemunafikan amali inilah yang kadang dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Padahal kemunafikan amali sangatlah fatal akibatnya jika terus dilakukan seseorang. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab rahimahullahu: �Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati. Demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.�
Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
????? ???????????? ???????? ????? ??????? ??????? ??????? ????????? ?????? ??????? ?????? ????????
�Tanda orang munafik ada tiga: Jika bicara berdusta, jika diberi amanah berkhianat, dan jika berjanji menyelisihinya.�
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu �anhuma, dari Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
???????? ???? ????? ????? ????? ?????????? ????????? ?????? ??????? ??????? ????????? ????? ??????? ????? ???????? ???? ?????????? ?????? ?????????: ???? ????? ??????? ??????? ??????? ?????? ????????? ??????? ??????? ??????? ??????? ??????? ??????
�Empat perkara, barangsiapa yang ada pada dirinya keempat perkara tersebut maka ia munafik tulen. Jika ada padanya satu di antara perangai tersebut berarti ada pada dirinya satu perangai kemunafikan sampai meninggalkannya: Yaitu seseorang jika bicara berdusta, jika membuat janji tidak menepatinya, jika berselisih melampui batas, dan jika melakukan perjanjian mengkhianatinya.�
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa di antara perangai kemunafikan adalah:
1. Berdusta ketika bicara
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: �Inti kemunafikan yang dibangun di atasnya kemunafikan adalah dusta.�
2. Mengingkari janji
3. Mengkhianati amanah
4. Membatalkan perjanjian secara sepihak
Perjanjian yang dimaksud dalam hadits ini ada dua:
1. Perjanjian dengan Allah Subhanahu wa Ta�ala untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.
2. Perjanjian dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta�ala, dan ini mencakup banyak perkara.
Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya senantiasa berusaha memenuhi perjanjiannya, terlebih lagi perjanjiannya dengan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

???? ?????????????? ??????? ???????? ??? ????????? ????? ???????? ?????????? ???? ????? ???????? ?????????? ???? ?????????? ????? ????????? ??????????

�Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).� (Al-Ahzab: 23)
Lain halnya dengan orang-orang kafir dan munafik. Mereka adalah orang-orang yang suka membatalkan secara sepihak serta tidak menepati perjanjian. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

????????? ??????????? ?????? ????? ???? ?????? ?????????? ????????????? ??? ?????? ????? ???? ???? ??????? ????????????? ??? ????????? ????????? ???? ?????????????

�(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya serta membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.� (Al-Baqarah: 27)
Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

????????? ????????? ???????? ????? ??????????? ?????????? ??? ????? ??????? ?????? ??? ??????????

�(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).� (Al-Anfal: 56)
Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

?????????? ???? ??????? ????? ?????? ????????? ???? ???????? ??????????????? ?????????????? ???? ?????????????. ???????? ?????????? ???? ???????? ???????? ???? ???????????? ?????? ???????????. ?????????????? ???????? ??? ??????????? ????? ?????? ???????????? ????? ?????????? ????? ??? ????????? ??????? ??????? ???????????

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: �Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.� Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah Subhanahu wa Ta�ala apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. (At-Taubah: 75-77)

Wajib hukumnya memenuhi perjanjian dengan hamba Allah Subhanahu wa Ta�ala
Ibnu Rajab rahimahullahu menyatakan: �Mengingkari (mengkhianati) perjanjian adalah haram dalam semua perjanjian seorang muslim dengan yang lainnya walaupun dengan seorang kafir mu�ahad. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
???? ?????? ?????????? ???? ?????? ????????? ?????????? ??????? ???????? ??????? ???? ????????? ??????????? ??????
�Barangsiapa membunuh kafir mu�ahad tidak akan mencium bau surga padahal wanginya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan.� (HR. Al-Bukhari no. 3166) [Lihat Jami�ul �Ulum wal Hikam hal. 744]
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullahu juga menyatakan: �Adapun perjanjian di antara kaum muslimin maka keharusan untuk memenuhinya lebih kuat lagi, dan membatalkannya lebih besar dosanya. Yang paling besar adalah membatalkan perjanjian taat kepada pemimpin muslimin yang (kita) telah berbai�at kepadanya.�
Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
????????? ??? ????????????? ????? ????? ???????? ?????????? ????? ???????????? ???????? ??????? ???????: ...???????? ??????? ??????? ??? ??????????? ?????? ??????????? ?????? ????????? ??? ??????? ????? ????...
Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala di hari kiamat nanti, tidak akan disucikan, dan mereka akan mendapatkan azab yang pedih �di antaranya: �Seorang yang membai�at pemimpinnya hanya karena dunia, jika pemimpinnya memberi apa yang dia mau dia penuhi perjanjiannya dan jika tidak maka dia pun tidak menepati perjanjiannya.� (HR. Al-Bukhari no. 2672, Muslim no. 108)

Berhati-hatilah dari berbagai bentuk kemunafikan
Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: �Sebagian orang mengira kemunafikan hanyalah ada di zaman Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam saja, tidak ada kemunafikan setelah zaman beliau. Ini adalah prasangka yang salah. Hudzaifah radhiyallahu �anhu berkata: �Kemunafikan pada zaman ini lebih dahsyat dari kemunafikan di zaman Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam.� Mereka berkata: �Bagaimana (bisa dikatakan demikian)?� Beliau menjawab: �Orang-orang munafik di zaman Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam menyembunyikan kemunafikan mereka. Adapun sekarang, mereka (berani) menampakkan kemunafikan mereka�.�
Asy-Syaikh Rabi� bin Hadi Al-Madkhali berkata: �Kemunafikan sekarang ini banyak terjadi pada pergerakan politik, sebagaimana telah dipersaksikan oleh sebagian mereka. Sebagian mereka menyatakan: �Aku tidak pernah tahu ada politikus yang tidak berdusta.� Sebagian bahkan menyatakan: �Sesungguhnya politik adalah kemunafikan.� Sehingga kebanyakan politikus terkena kemunafikan amali dalam partai-partai politik.�
Beliau juga menyatakan: �Di antara tanda kemunafikan amali adalah ber-wala� (berloyalitas) dengan ahlul bid�ah serta membuat manhaj-manhaj berbahaya dalam rangka melawan dan meruntuhkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.� (Syarh Ushulus Sunnah)

Penutup
Saudaraku sekalian�
Allah Subhanahu wa Ta�ala memerintahkan agar kita bersikap keras dan menjauhi orang-orang munafik serta menjadikannya sebagai musuh. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

??????????? ?????????? ??????? ??????????? ????????????????? ????????? ??????????

�Wahai Nabi, jihadilah orang-orang kafir dan munafikin serta bersikap keraslah kepada mereka.� (At-Tahrim: 9)
Dalam ayat yang lain:

???? ?????????? ?????????????

�Mereka (orang-orang munafik) adalah musuh maka hati-hatilah dari mereka�� (Al-Munafiqun: 4)
Maka, sepatutnya seorang muslim menjauhkan diri dari amalan dan sifat-sifat musuh mereka, serta menjauhkan diri dari semua perkara yang akan menjatuhkan dirinya ke dalam kemunafikan, seperti politik praktis dan berbagai jenis kebid�ahan. Nas�alullah al-�afwa wal afiyah.
Description: Jauhilah Sifal-sifat Munafik
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Jauhilah Sifal-sifat Munafik
Di awal surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta�ala menyebutkan tiga golongan manusia:
1. Kaum mukminin
2. Orang-orang kafir
3. Orang-orang munafik
Allah Subhanahu wa Ta�ala membeberkan kepada kaum mukminin di dalam ayat-ayat tersebut tentang kebusukan hati orang-orang munafik dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta�ala menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan namun mengklaim sebagai orang yang melakukan perbaikan:

??????? ????? ?????? ??? ?????????? ??? ????????? ??????? ???????? ?????? ???????????. ????? ????????? ???? ?????????????? ???????? ??? ???????????

Apabila dikatakan kepada mereka, �Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.� Maka mereka berkata, �Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.� Ketahuilah, mereka adalah umat yang melakukan kerusakan namun mereka tidak mengetahuinya. (Al-Baqarah: 11-12)
Mereka adalah orang-orang dungu. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

??????? ????? ?????? ????????? ????? ??????? ???????? ??????? ?????????? ????? ??????? ???????????? ????? ????????? ???? ???????????? ???????? ??? ???????????

Apabila dikatakan kepada mereka, �Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.� Mereka menjawab, �Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?� Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh (dungu), tetapi mereka tidak tahu. (Al-Baqarah: 13)
Allah Subhanahu wa Ta�ala akan memperolok mereka:

??????? ???????????? ?????? ????????????? ??? ????????????? ???????????

�Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.� (Al-Baqarah: 15)
Di antara bentuk balasan dari Allah Subhanahu wa Ta�ala adalah ketika di hari kiamat nanti, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

?????? ????? ?????????????? ???????????????? ??????? ????????? ?????? ??????????? ????????????????? ??????????? ????????? ???????? ??????? ???? ????????? ???????????? ?????????? ?????? ?????? ???? ????????? ??????????. ?????? ??????? ??????????????? ????????????????? ?????????? ????????? ??????????? ?????????? ???? ????????? ????? ????????? ??????????? ????????????? ?????? ???????? ?????????? ??????? ???? ????? ????????? ????? ??????????? ??????????? ???? ???????? ??????????. ?????????????? ?????? ?????? ???????? ??????? ????? ????????????? ?????????? ???????????? ??????????????? ????????????? ????????????? ????????????? ?????? ????? ?????? ????? ??????????? ????????? ??????????

(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka): �Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.� Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: �Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.� Dikatakan (kepada mereka): �Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).� Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu, di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: �Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?� Mereka menjawab: �Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah, dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.� (Al-Hadid: 12-14)
Di dalam ayat-ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta�ala mengancam orang-orang munafikin dengan ancaman yang keras. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

?????? ?????????? ??????? ???? ????????? ????? ??????????? ??????? ???? ????? ????????? ???????? ?????? ?????? ????????? ??????????

�Tidakkah mereka (orang-orang munafik) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya maka bagi dia neraka jahanam. Dia kekal di dalamnya dan itu adalah kehinaan yang besar.� (At-Taubah: 63)
Di dalam ayat yang lain:

?????? ????? ??????????????? ????????????????? ????????????? ????? ????????? ?????????? ??????

�Allah mengancam orang-orang munafik yang laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya.� (At-Taubah: 68)
Kelak mereka akan ada di kerak neraka yang terbawah:

????? ??????????????? ??? ????????? ??????????? ???? ???????? ?????? ?????? ?????? ????????

�Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.� (An-Nisa: 145)
Banyak lagi nash dalam Al-Qur�an dan As-Sunnah yang menunjukkan keburukan orang-orang munafik dan ancaman bagi mereka. Sehingga seyogianya bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari mereka dan juga menjauhi sifat-sifat mereka.

Pengertian nifaq (kemunafikan)
Kemunafikan adalah menyembunyikan kebatilan dan menampakkan kebaikan. Kemunafikan adalah penyakit hati yang berbahaya. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

??? ??????????? ?????? ??????????? ????? ??????? ???????? ??????? ??????? ????? ??????? ???????????

�Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.� (Al-Baqarah: 10)

Jenis nifaq (kemunafikan)
Ada dua jenis, yakni nifaq akbar (kemunafikan besar) dan nifaq asghar (kemunafikan kecil). Kemunafikan akbar yang disebut juga kemunafikan i�tiqadi (keyakinan) adalah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman. Kemunafikan ini mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Kemunafikan asghar yang disebut pula kemunafikan amali (amalan) adalah menampakkan lahiriah yang baik dan menyembunyikan kebalikannya. Pokok kemunafikan asghar kembali kepada lima perkara: Sering berdusta ketika berbicara, sering tidak menepati janji, jika berselisih melampaui batas, jika melakukan perjanjian melanggarnya, dan sering khianat jika diberi amanah.
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: �Kesimpulannya, kemunafikan asghar semuanya kembali kepada berbedanya seseorang ketika sedang sendiri dan ketika terlihat (bersama) orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri rahimahullahu.� (Lihat Jami�ul �Ulum wal Hikam hal. 747)

Perbedaan kemunafikan kecil dan kemunafikan besar
Di antara perbedaan antara keduanya adalah:
1. Kemunafikan akbar pelakunya keluar dari Islam, adapun kemunafikan asghar tidak mengeluarkan dari Islam.
2. Kemunafikan akbar tidak mungkin bersatu dengan keimanan, adapun kemunafikan asghar mungkin ada pada seorang yang beriman.
3. Kemunafikan akbar pelakunya kekal di neraka, sedangkan kemunafikan asghar pelakunya tidak kekal di neraka.
(Lihat Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Bahaya kemunafikan asghar
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: �Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati, demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.� (Lihat Jami�ul �Ulum wal Hikam)

Orang beriman senantiasa khawatir terjatuh ke dalam kemunafikan
Ibnu Mulaikah rahimahullahu berkata: �Aku mendapati tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam, semuanya mengkhawatirkan kemunafikan atas dirinya.�
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu �anhu sampai bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu �anhu, apakah dirinya termasuk yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam sebagai orang munafik.
Sebagian ulama menyatakan: �Tidak ada yang takut dari kemunafikan kecuali mukmin, dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali munafik.� (dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu)
Al-Imam Ahmad rahimahullahu ditanya, �Apa pendapatmu tentang orang yang mengkhawatirkan atas dirinya kemunafikan?� Beliau menjawab, �Siapa yang merasa dirinya aman dari kemunafikan?� (Lihat Jami�ul �Ulum wal Hikam)

Jauhi sifat-sifat munafik
Kami akan sebutkan beberapa sifat kemunafikan amali yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam, karena kemunafikan amali inilah yang kadang dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Padahal kemunafikan amali sangatlah fatal akibatnya jika terus dilakukan seseorang. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab rahimahullahu: �Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati. Demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.�
Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
????? ???????????? ???????? ????? ??????? ??????? ??????? ????????? ?????? ??????? ?????? ????????
�Tanda orang munafik ada tiga: Jika bicara berdusta, jika diberi amanah berkhianat, dan jika berjanji menyelisihinya.�
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu �anhuma, dari Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
???????? ???? ????? ????? ????? ?????????? ????????? ?????? ??????? ??????? ????????? ????? ??????? ????? ???????? ???? ?????????? ?????? ?????????: ???? ????? ??????? ??????? ??????? ?????? ????????? ??????? ??????? ??????? ??????? ??????? ??????
�Empat perkara, barangsiapa yang ada pada dirinya keempat perkara tersebut maka ia munafik tulen. Jika ada padanya satu di antara perangai tersebut berarti ada pada dirinya satu perangai kemunafikan sampai meninggalkannya: Yaitu seseorang jika bicara berdusta, jika membuat janji tidak menepatinya, jika berselisih melampui batas, dan jika melakukan perjanjian mengkhianatinya.�
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa di antara perangai kemunafikan adalah:
1. Berdusta ketika bicara
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: �Inti kemunafikan yang dibangun di atasnya kemunafikan adalah dusta.�
2. Mengingkari janji
3. Mengkhianati amanah
4. Membatalkan perjanjian secara sepihak
Perjanjian yang dimaksud dalam hadits ini ada dua:
1. Perjanjian dengan Allah Subhanahu wa Ta�ala untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.
2. Perjanjian dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta�ala, dan ini mencakup banyak perkara.
Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya senantiasa berusaha memenuhi perjanjiannya, terlebih lagi perjanjiannya dengan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

???? ?????????????? ??????? ???????? ??? ????????? ????? ???????? ?????????? ???? ????? ???????? ?????????? ???? ?????????? ????? ????????? ??????????

�Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).� (Al-Ahzab: 23)
Lain halnya dengan orang-orang kafir dan munafik. Mereka adalah orang-orang yang suka membatalkan secara sepihak serta tidak menepati perjanjian. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

????????? ??????????? ?????? ????? ???? ?????? ?????????? ????????????? ??? ?????? ????? ???? ???? ??????? ????????????? ??? ????????? ????????? ???? ?????????????

�(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya serta membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.� (Al-Baqarah: 27)
Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

????????? ????????? ???????? ????? ??????????? ?????????? ??? ????? ??????? ?????? ??? ??????????

�(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).� (Al-Anfal: 56)
Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

?????????? ???? ??????? ????? ?????? ????????? ???? ???????? ??????????????? ?????????????? ???? ?????????????. ???????? ?????????? ???? ???????? ???????? ???? ???????????? ?????? ???????????. ?????????????? ???????? ??? ??????????? ????? ?????? ???????????? ????? ?????????? ????? ??? ????????? ??????? ??????? ???????????

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: �Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.� Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah Subhanahu wa Ta�ala apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. (At-Taubah: 75-77)

Wajib hukumnya memenuhi perjanjian dengan hamba Allah Subhanahu wa Ta�ala
Ibnu Rajab rahimahullahu menyatakan: �Mengingkari (mengkhianati) perjanjian adalah haram dalam semua perjanjian seorang muslim dengan yang lainnya walaupun dengan seorang kafir mu�ahad. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
???? ?????? ?????????? ???? ?????? ????????? ?????????? ??????? ???????? ??????? ???? ????????? ??????????? ??????
�Barangsiapa membunuh kafir mu�ahad tidak akan mencium bau surga padahal wanginya surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan.� (HR. Al-Bukhari no. 3166) [Lihat Jami�ul �Ulum wal Hikam hal. 744]
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullahu juga menyatakan: �Adapun perjanjian di antara kaum muslimin maka keharusan untuk memenuhinya lebih kuat lagi, dan membatalkannya lebih besar dosanya. Yang paling besar adalah membatalkan perjanjian taat kepada pemimpin muslimin yang (kita) telah berbai�at kepadanya.�
Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:
????????? ??? ????????????? ????? ????? ???????? ?????????? ????? ???????????? ???????? ??????? ???????: ...???????? ??????? ??????? ??? ??????????? ?????? ??????????? ?????? ????????? ??? ??????? ????? ????...
Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala di hari kiamat nanti, tidak akan disucikan, dan mereka akan mendapatkan azab yang pedih �di antaranya: �Seorang yang membai�at pemimpinnya hanya karena dunia, jika pemimpinnya memberi apa yang dia mau dia penuhi perjanjiannya dan jika tidak maka dia pun tidak menepati perjanjiannya.� (HR. Al-Bukhari no. 2672, Muslim no. 108)

Berhati-hatilah dari berbagai bentuk kemunafikan
Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: �Sebagian orang mengira kemunafikan hanyalah ada di zaman Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam saja, tidak ada kemunafikan setelah zaman beliau. Ini adalah prasangka yang salah. Hudzaifah radhiyallahu �anhu berkata: �Kemunafikan pada zaman ini lebih dahsyat dari kemunafikan di zaman Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam.� Mereka berkata: �Bagaimana (bisa dikatakan demikian)?� Beliau menjawab: �Orang-orang munafik di zaman Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam menyembunyikan kemunafikan mereka. Adapun sekarang, mereka (berani) menampakkan kemunafikan mereka�.�
Asy-Syaikh Rabi� bin Hadi Al-Madkhali berkata: �Kemunafikan sekarang ini banyak terjadi pada pergerakan politik, sebagaimana telah dipersaksikan oleh sebagian mereka. Sebagian mereka menyatakan: �Aku tidak pernah tahu ada politikus yang tidak berdusta.� Sebagian bahkan menyatakan: �Sesungguhnya politik adalah kemunafikan.� Sehingga kebanyakan politikus terkena kemunafikan amali dalam partai-partai politik.�
Beliau juga menyatakan: �Di antara tanda kemunafikan amali adalah ber-wala� (berloyalitas) dengan ahlul bid�ah serta membuat manhaj-manhaj berbahaya dalam rangka melawan dan meruntuhkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.� (Syarh Ushulus Sunnah)

Penutup
Saudaraku sekalian�
Allah Subhanahu wa Ta�ala memerintahkan agar kita bersikap keras dan menjauhi orang-orang munafik serta menjadikannya sebagai musuh. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

??????????? ?????????? ??????? ??????????? ????????????????? ????????? ??????????

�Wahai Nabi, jihadilah orang-orang kafir dan munafikin serta bersikap keraslah kepada mereka.� (At-Tahrim: 9)
Dalam ayat yang lain:

???? ?????????? ?????????????

�Mereka (orang-orang munafik) adalah musuh maka hati-hatilah dari mereka�� (Al-Munafiqun: 4)
Maka, sepatutnya seorang muslim menjauhkan diri dari amalan dan sifat-sifat musuh mereka, serta menjauhkan diri dari semua perkara yang akan menjatuhkan dirinya ke dalam kemunafikan, seperti politik praktis dan berbagai jenis kebid�ahan. Nas�alullah al-�afwa wal afiyah.
Description: Jauhilah Sifal-sifat Munafik
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Jauhilah Sifal-sifat Munafik
Pertanyaan : Apa hukumnya mengucapkan selamat tahun baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh umat, seperti saling mengucapkan : ????? ????? ?????????? ???????? (setiap tahun engkau senantiasa berada dalam kebaikan) atau ucapan-ucapan semisal?

Asy-Syaikh Muhammad bin Sh�lih Al-�Utsaim�n rahimahullah menjawab :

Ucapan selamat tahun baru bukanlah perkara yang dikenal di kalangan para �ulama salaf. Oleh karena itu lebih baik ditinggalkan. Namun kalau seseorang mengucapkan selamat karena pada tahun yang sebelumnya ia telah menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, ia mengucapkan selamat karena umurnya yang ia gunakan untuk ketaatan kepada Allah, maka yang demikian tidak mengapa. Karena sebaik-baik manusia adalah barangsiapa yang panjang umurnya dan baik amalannya. Namun perlu diingat, ucapan selamat ini hanyalah dilakukan pada penghujung tahun hijriyyah. Adapun penghujung tahun miladiyyah (masehi) maka tidak boleh mengucapkan selamat padanya, karena itu bukan tahun yang syar�i. Bahkan kaum kafir biasa mengucapkan selamat pada hari-hari besar mereka. Seseorang akan berada pada bahaya besar jika ia mengucapkan selamat pada hari-hari besar orang-orang kafir. Karena ucapan selamat untuk hari-hari besar orang-orang kafir merupakan bentuk ridha terhadap mereka bahkan lebih. Ridha terhadap hari-hari besar orang-orang kafir bisa mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Im�m Ibnul Qayyim dalam kitab Ahk�m Ahlidz Dzimmah (Hukum-hukum tentang Kafir Dzimmi).

Kesimpulannya : Ucapan selamat untuk tahun baru hijriyyah lebih baik ditinggalkan tanpa diragukan lagi, karena itu bukan kebiasaan para �ulama salaf. Namun kalau ada seseorang yang mengucapkannya maka ia tidak berdosa.

Adapun ucapan selamat untuk tahun baru miladiyyah (masehi) maka tidak boleh.

Sumber : http://www.darussalaf.or.id/
Description: HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU

Amalan Amalan diBulan Ramadhan

Selasa, 20 Juli 2010
Posted by Unknown
S
egala puji bagi Allah yang menjadikan bulan Ramadhan lebih baik dari pada bulan-bulan lainnya dengan menurunkan al-Qur`an dan mewajibkan puasa bagi kaum muslimin sebagai salah satu pondasi Islam. shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad r yang telah menyampaikan kepada kita tentang ibadah-ibadah dibulan Ramadhan dan memberikan contoh kepada kita bagaimana sebaiknya menghidupkan bulan bulan yang penuh berkah ini.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, 'Rasulullah memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia tidak memperoleh apa-apa." HR. Ahmad dan an-Nasa`i.

Berikut ini adalah amalan-amalan yang dianjurkan di bulan Ramadhan:

Puasa

Allah memerintahkan berpuasa di bulan Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam.

Puasa di bulan merupakan penghapus dosa-dosa yang terdahulu apabila dilaksanakan dengan ikhlas berdasarkan iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah

Membaca al-Qur`an

Membaca al-Qur`an sangat dianjurkan bagi setiap muslim di setiap waktu dan kesempatan.

Rasulullah bersabda: "Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yaitu, orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya). HR. Muslim. Dan membaca al-Qur`an lebih dianjurkan lagi pada bulan Ramadhan, karena pada bulan itulah diturunkan al-Qur`an.

Menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat Tarawih berjamaah

Shalat Tarawih disyari'atkan berdasarkan hadits 'Aisyar radhiyallahu 'anha, ia berkata:"Sesungguhnya Rasulullah r keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid, dan shalatlah beberapa orang bersama beliau. Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya. Ketika Nabi I mengerjakan shalat (di malam kedua), banyaklah orang yang shalat di belakang beliau. Di pagi hari berikutnya, orang-orang kembali memperbincangkannya. Di malam yang ketiga, jumlah jamaah yang di dalam masjid bertambah banyak, lalu Rasulullah keluar dan melaksanakan shalatnya. Pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaah, sehingga Rasulullah hanya keluar untuk melaksanakan shalat Subuh. Tatkala selesai shalat Subuh, beliau menghadap kepada jamaah kaum muslimin, kemudian membaca syahadat dan bersabda, 'Sesungguhnya kedudukan kalian tidaklah samar bagiku, aku merasa khawatir ibadah ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya." Rasulullah wafat dan kondisinya tetap seperti ini. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menghidupkan malam-malam Lailatul Qadar

lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan yang tidak ada lailatul qadar dan pendapat paling kuat bahwa ia terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, terlebih lagi pada malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Firman Allah : Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS.al-Qadar :3)

I'tikaf di malam-malam Lailatul Qadar

I'tikaf dalam bahasa adalah berdiam diri atau menahan diri pada suatu tempat, tanpa memisahkan diri. Sedang dalam istilah syar'i, i'tikaf berarti berdiam di masjid untuk beribadah kepada Allah dengan cara tertentu sebagaimana telah diatur oleh syari'at. I'tikaf merupakan salah satu sunnah yang tidak pernah ditinggal oleh Rasulullah

seperti yang diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha:

"Sesungguhnya Nabi r selalu i'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai meninggal dunia, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sesudah beliau." Muttafaqun 'alaih.

Memperbanyak sedekah

Rasulullah adalah orang yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan saat Jibril u menemui beliau, �HR. al-Bukhari.

Melaksanakan ibadah umrah

salah satu ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah melaksanakan ibadah umrah dan Rasulullah menjelaskan bahwa nilai pahalanya sama dengan melaksanakan ibadah haji, seperti dalam hadits yang berbunyi: "Umrah di bulan Ramadhan sama dengan ibadah haji.�

Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mendapat taufik dari Allah untuk mengamalkannya agar kita mendapatkan kebaikan dan keberkahan bulan Ramadhan. Wallahu A'lam.

Artikel ini didapat dari AMALAN-AMALAN DI BULAN SUCI RAMADHAN Disusun Oleh: Mohammad Iqbal Ghazali. MA penerbit IslamHouse.com


Bagi teman-teman yang ingin membaca secara lebih terperinci silahkan download Ebook Amalan-Amalan di Bulan Ramadhan pada link Download di bawah ini

Description: Amalan Amalan diBulan Ramadhan
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Amalan Amalan diBulan Ramadhan
Adab Ziarah Kubur

Adab Ziarah Kubur di antaranya sebagai berikut:

Memberikan salam

Memberi salam kepada penghuni kubur (muslimin) dan mendo�akan kebaikan bagi mereka. Diantara do�a yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu �alaihi wa alihi wa sallam kepada ummatnya yang berziarah kubur :

??????????? ?????????? ?????? ?????????? ???? ??????????????? ????????????????? ???????? ???? ????? ????? ????????????? ???????? ????? ????? ???????? ????????????

Artinya :
�Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu�minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian�. Diriwayatkan oleh Imam Muslim 975, An-Nasa`i 4/94, Ahmad 5/353, 359, 360.

??????????? ????? ?????? ?????????? ???? ??????????????? ????????????????? ?????????? ????? ??????????????????? ?????? ????????????????????? ???????? ???? ????? ????? ?????? ?????????????

�Keselamatan atas penghuni kubur dari kaum mu�minin dan muslimin mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan dan kami Insya Allah akan menyusul kalian�.

Tidak berjalan di atas kuburan dengan mengenakan sandal.

Hal ini berdasarkan hadits Basyir bin Khashoshiah :

????????? ???? ???????? ???? ??????? ?????? ???????? ??????? ?????? ???????? ?????? ??????????? ???????? ????????? ??????? ??? ??????? ?????????????????? ???????? ?????? ??????????????? ???????? ???????? ?????? ???????? ????? ?????? ????? ???????? ??????? ????????? ?????? ?????????? ??????? ???????

�Ketika Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau memandang seorang laki-laki yang berjalan diantara kubur dengan mengenakan sandal, maka Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda : �Wahai pemilik (yang memakai) sandal celakalah engkau lepaskanlah sandalmu�. Maka orang itu memandang tatkala ia mengetahui Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam ia melepaskan kedua sandalnya dan melemparkannya. Diriwayatkan oleh Abu Daud 2/72, An-Nasa`i 1/288, Ibnu Majah 1/474, Al-Hakim 1/373 dan dia berkata : �Sanadnya shohih�, dan disepakati oleh Adz-Dzahaby dan dikuatkan (diakui) oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bary 3/160).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : �Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan diantara kuburan dengan sandal� (Fathul Bary 3/160). Berkata Syaikh Al-Albany : �Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di atas kuburan dengan memakai sandal. Lihat Ahkamul Janaiz 252).

Tidak duduk atau bersandar pada kuburan.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Marbad radhiyallahu �anhu dari Nabi shollallahu �alaihi wa alihi wa sallam :

??? ??????????? ????? ??????????? ????? ????????? ?????????

�Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan melakukan shalat padanya�. Dikeluarkan oleh Imam Muslim 2/228.

Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu �alaihi wa alihi wa sallam bersabda :

?????? ???????? ?????????? ????? ???????? ?????????? ????????? ?????????? ????? ???????? ?????? ???? ???? ???? ???????? ????? ??????

�Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga (bara api itu) membakar pakaiannya sampai mengenai kulitnya itu adalah lebih baik daripada dia duduk di atas kuburan�. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dibolehkan bagi peziarah untuk mengangkat tangannya ketika berdo�a untuk penghuni kubur

berdasarkan hadits �Aisyah radhiyallahu �anha : �Rasulullah shollallahu �alaihi wa alihi wa sallam keluar pada suatu malam, maka aku (�Aisyah) mengutus Barirah untuk membuntuti kemana saja beliau (Rasulullah) pergi, maka Rasulullah mengambil jalan ke arah Baqi� Al-Garqad kemudian beliau berdiri pada sisi yang terdekat dari Baqi� lalu beliau mengangkat tangannya, setelah itu beliau pulang, maka kembalilah Barirah kepadaku dan mengabariku (apa yang dilihatnya). Maka pada pagi hari aku bertanya dan berkata :

Wahai Rasulullah keluar kemana engkau semalam ? Beliau berkata : �Aku diutus kepada penghuni Baqi� untuk mendo�akan mereka. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/92) dan sebelumnya oleh Imam Malik pada kitabnya (Al-Muwatho` (1/239-240)).

Tidak boleh bersuka cita

Berkata �Abdullah Al-Bassam : �Tidaklah pantas bagi seseorang yang berada dipekuburan, baik dia bermaksud berziarah atau hanya secara kebetulan untuk berada dalam keadaan bergembira dan senang seakan-akan dia berada pada suatu pesta, seharusnya dia ikut hanyut atau memperlihatkan perasaan ikut hanyut dihadapan keluarga mayat�. (Lihat Taudhihul Ahkam 2/564).

Menghadap ke kuburan ketika memberi salam kepada penghuni kubur.

Hal ini diambil dari hadits-hadits yang lalu tentang cara memberi salam pada penghuni kubur.

Ketika mendo�akan penghuni kubur tidak menghadap kekuburan melainkan menghadap kiblat.

Sebab Nabi shollallahu �alaihi wa alihi wa sallam melarang ummatnya shalat menghadap kubur dan karena do�a adalah intinya ibadah, sebagaimana sabda Nabi shollallahu �alaihi wa alihi wa sallam :

?????????? ???? ????????????

�Doa adalah ibadah�.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy (4/178,223) dan Ibnu Majah (2/428-429).


referensi:
http://www.darussalaf.or.id/
Description: Adab Ziarah Kubur
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Adab Ziarah Kubur
Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.
Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:

1. Ikhlas karena Allah I .

Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerena Allah I dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya e :

"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah I sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu Majah

Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar.

2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.

Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita.

Apakah disyaratkan untuk memberi mamfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi mamfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah e bersabda :

"Sampaikanlah dariku walupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)
Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.

3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at.

Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Karena kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah e. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah.

4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.

Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah e masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita.

5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.

Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).

6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.

Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.

7. Mencari kebenaran dan sabar

Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut.

Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting karena sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.Wallahu 'Alam.
Dikutip dari " Kitabul ilmi" Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin
.(Abu Luthfi)

Sumber:
http://van.9f.com/adab_menuntut_ilmu.htm
Description: Adab Menuntut Ilmu
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Adab Menuntut Ilmu

Ilmu Pembersih Hati

Minggu, 18 Juli 2010
Posted by Unknown
A
da sebait do'a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do'a tersebut berbunyi : Allaahummanfa'nii bimaa allamtanii wa'allimnii maa yanfa'uni wa zidnii ilman maa yanfa'unii. Dengan do'a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermanfaat.

Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat - memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, manfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma'rifat, gambaran ilmu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. "Ilmu yang berguna," ungkapnya, "ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati." seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, "Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri."

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, "Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun!

Akan tetapi, walaupun hanya "setetes" ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.
Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. "Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?" Sang guru menjawab, "Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih." Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.
Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta'lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermanfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi "tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.

Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma'rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.

Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma'rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.

Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum'ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?

Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.***



Sumber: Kumpulan Tausiyah K.H. Abdullah Gymnastiar
Description: Ilmu Pembersih Hati
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Ilmu Pembersih Hati

Makna Islam dan Iman

Minggu, 20 Juni 2010
Posted by Unknown
Tidak ada keberuntungan bagi umat manusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Kebutuhan mereka terhadapnya melebihi kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan udara. Setiap manusia membutuhkan syari'at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yang menarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya. Islam adalah penerang yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya.

Agama Islam ada tiga tingkatan: Islam, iman dan ihsan. Dan setiap tingkatan mempunyai rukun.

Perbedaan di antara Islam, iman dan ihsan:

Islam dan iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.

Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya; karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman dan ihsan lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman. Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.

Iman lebih umum daripada Islam dari maknanya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.

Pengertian Islam:

Islam adalah berserah diri kepada Allah I dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan taat dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan pelakunya. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah I saja, maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah I dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah I, maka dia seorang kafir yang sombong.

Rukun-Islam

Rukun Islam ada lima:

Dari Ibnu Umar t, ia berkata, "Rasulullah r bersabda, 'Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah I, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa Ramadhan." Muttafaqun 'Alaih.[1]

Pengertian Syahadah (laailaaha illallah):

Manusia mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah I, dan sesembahan-sesembahan selain Dia I, maka ketuhanannya adalah batil dan ibadahnya juga batil. Kalimah syahadah tersebut mengandung nafi (meniadakan/menolak) dan itsbat (menetapkan). (Laa ilaaha), artinya menolak semua yang disembah selain Allah I, (Illallah) adalah menetapkan ibadah kepada Allah I saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menyembah-Nya, seperti tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.

Pengertian syahadah (Muhammad Rasulullah):

Taat kepada Nabi r dalam perintahnya, membenarkan beritanya, menjauhi yang dilarangnya, dan dia tidak menyembah Alah I kecuali dengan cara yang disyari'atkannya.

Iman

Iman: Engkau beriman kepada Allah I, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruknya.

Iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, dan amal hati, lisan dan anggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat.

Cabang-cabang iman:

Dari Abu Hurairah t, ia berkata, "Rasulullah r bersabda, 'Iman terbagi lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailaa ha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman." HR. Muslim[2]

Tingkatan-tingkatan Iman:

Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat.

1. Adapun rasanya iman, maka Nabi r menjelaskan dengan sabda-Nya: "Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah I sebagai Rabb (Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad r sebagai rasul." HR. Muslim[3]

2. Adapun manisnya iman, maka Nabi r menjelaskan dengan sabdanya: "Ada tiga perkara, jika terdapat dalam diri seseorang, niscaya dia merasakan nikmatnya iman: bahwa Allah I dan Rasul-Nya r lebih dicintainya dari apapun selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah I, dan dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka." Muttafaqun 'alaih.

3. Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkan oleh orang yang memiliki hakekat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan dakwah, berhijrah dan menolong, berjihad dan berinfak.

1, Firman Allah I:

???????? ?????????????? ????????? ????? ?????? ????? ???????? ??????????? ??????? ???????? ?????????? ?????????? ??????????? ????????? ??????? ????????? ?????????????? {2} ????????? ?????????? ?????????? ???????? ????????????? ?????????? {3} ?????????? ???? ?????????????? ?????? ??????? ????????? ????? ????????? ???????????? ???????? ??????? {4}

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, .

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal :2-4)

2, Firman Allah I:

??????????? ????????? ??????????? ??????????? ??? ??????? ????? ??????????? ???????? ?????????? ?????????? ???? ?????????????? ?????? ?????? ??????????? ???????? ???????

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal: 74)

3, Firman Allah I:

???????? ?????????????? ????????? ????????? ??????? ??????????? ????? ???? ??????????? ??????????? ??????????????? ????????????? ??? ??????? ????? ??????????? ???? ?????????????

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujuraan :15)

Seorang hamba tidak bisa mencapai hakekat iman sehingga dia mengetahui bahwa apapun yang menimpanya tidak akan luput darinya dan apapun yang luput darinya pasti tidak akan menimpanya.

Kesempurnaan Iman:

Cinta yang sempurna kepada Allah I Rasul-Nya memberikan konsekuensi adanya sesuatu yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinya hanya karena Allah I, yang keduanya adalah amal ibadah hati, dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah I, yang keduanya adalah amal ibadah badan, niscaya hal itu menunjukkan kesempurnaan iman dan kesempurnaan cinta kepada Allah I.

Dari Abu Umamah t, dari Rasulullah r bersabda, "Barang siapa cinta karena Allah, memberi karena Allah, dan melarang karena Allah I, niscaya dia telah menyempurnakan iman." HR: Abu Daud[4]

Termasuk Perkara-Perkara Keimanan

Cinta kepada Rasulullah r:

Dari Anas bin Malik t, ia berkata, 'Rasulullah r bersabda, 'Tidak beriman (sempurna) seseorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari pada ayahnya, anaknya, dan menusia sekalian." Muttafaqun 'alaih.[5]

Mencintai kaum anshar:

Dari Anas t, dari Nabi r, beliau bersabda, "Tanda iman adalah mencintai kaum anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum anshar."Muttafaqun 'alaih[6]

Mencintai orang-orang yang beriman:

Dari Abu Hurairah t, ia berkata, 'Rasulullah r bersabda, 'Kamu tidak bisa masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehingga kaum saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang apabila kaum lakukan niscaya kalian saling mencintai, tebarkanlah salam di antara kamu." HR. Muslim[7]

Mencintai saudaranya sesama Islam:

Dari Anas bin Malik t, dari Nabi r, beliau bersabda, "Tidak beriman (sempurna) seseorang kamu sehingga dia mencintai saudaranya �atau tetangganya- apa yang dia cintai untuknya dirinya." Muttafaqun a'alaih[8]

Mencintai tetangga dan tamu, serta tidak bicara kecuali tentang yang baik:

Dari Abu Hurairah t, dari Rasulullah r, beliau bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah I dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah I dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya." Muttafaqun 'Alaih.[9]

Memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar:

Dari Abu Sa'id al-Khudri t, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah r bersabda, 'Barang siapa di antara kalian melihat yang mungkar (yang dilarang agama) hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka (hendaklah dia merubahnya) dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka (hendaklah dia merubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman." HR. Muslim.[10]

. Nasehat:

Dari Tamim ad-Darimi t, bahwasanya Nabi r bersabda, " Agama adalah nasehat.' Kami bertanya, 'Untuk siapa?' Beliau menjawab, 'Untuk Allah I, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam secara umum." HR. Muslim. [11]

. Iman adalah amalan yang paling utama:

Dari Abu Hurairah t, sesungguhnya Rasulullah r ditanya: 'Apakah amalan yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Iman kepada Allah I dan Rasul-Nya.' Beliau ditanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah I.' Beliau ditanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Haji yang mabrur." Muttafaqun 'Alaih.[12]

. Iman bertambah dengan taat dan berkurang dengan perbuatan maksiat:

1, Firman Allah I:

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath :4)

2, Firman Allah I:

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :"Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?". Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. (QS. At-Taubah :124)

3, Dari Abu Hurairah t, bahwasanya Rasulullah r bersabda, "Tidak berzina orang yang berzina saat berzina sedangkan dia dalam keadaan beriman. Tidak mencuri orang yang mencuri saat dia mencuri sedangkan dia dalam keadaan beriman. Dan tidak meminum arak (orang yang meminumnya) saat dia meminum sedangkan dia dalam keadaan beriman." Muttafaqun 'alaih.[13]

4, Dari Anas bin Malik t, dari Nabi r, beliau bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat rambut. Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah' dan di hatinya ada kebaikan seberat biji gandum. Dan akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata:'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji sawi (atom)." Dan dalam satu riwayat: 'iman' di tempat 'kebaikan'.

. Amal perbuatan orang kafir yang dilakukannya sebelum Islam:

1, Apabila orang kafir masuk Islam, kemudian ia berbuat baik, maka segala keburukan diampuni untuknya, karena firman Allah I:

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu :"Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu". (QS. Al-Anfaal :38)

2, Dan segala amal kebaikan (yang dilakukannya semasa kufur) diberikan pahala kepadanya, berdasarkan riwayat bahwa Hakim bin Hizam t bertanya kepada Rasulullah r: 'Bagaimana pendapatmu terhadap beberapa perkara (kebaikan) yang pernah saya lakukan di masa jahiliyah, apakah ada balasannya untuk saya?' Rasulullah r bersabda kepadanya:'Kamu masuk Islam bersama kebaikan yang pernah kamu lakukan." Muttafaqun 'Alaih.[14]

3, Dan (sebaliknya) barang siapa yang masuk Islam, kemudian melakukan dosa, maka dia disiksa dengan (dosa) pertama dan yang terakhir. Berdasarkan sabda Nabi r: 'Barang siapa yang berbuat di masa Islam, niscaya tidak disiksa karena perbuatan buruk yang dia lakukan di masa jahiliyah. Dan barang siapa yang berbuat kejahatan di masa sesudah Islam, niscaya dia disiksa karena (dosa) yang pertama dan terakhir." Muttafaqun 'Alaih.[15]




[1] HR. Bukhari no. 8 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 16

[2] HR. Muslim no. 35

[3] HR. Muslim no. 34

[4] Hasan/ HR. Abu Daud no. 4681, Shahih Sunan Abu Daud no. 3915. Lihat, as-Silsilah ash-Shahihah no 380

[5] HR. al-Bukhari 15 dan ini adalah lafaznya, dan Muslim no. 44

[6] HR. al-Bukhari no. 17 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 74

[7] HR. Muslim no 54

[8] HR. al-Bukhari no. 14 dan Muslim no. 45, ini adalah lafazhnya.

[9] HR. al-Bukhari no (6018) dan Muslim no. 48 dan ini adalah lafazhnya.

[10] HR. Muslim (49).

[11] HR. Muslim 55.

[12] HR. al-Bukhari no. 26 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 83.

[13] HR. al-Bukhari no. 2475 dan Muslim no. 57 dan ini adalah lafazhnya.

[14] HR. al-Bukhari no. 1436 dan Muslim no. 123 dan ini adalah lafazhnya.

[15] HR. al-Bukhari no. 50 dan Muslim 8 dan ini adalah lafazhnya.


Sumber Artikel : http://www.islamhouse.com

Download artikel ini dalam versi MS Word disini

Description: Makna Islam dan Iman
Rating: 4.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Makna Islam dan Iman
Welcome to My Blog

Popular Post

Labels

Followers

- Copyright © 2013 shad0w-share | Designed by Johanes Djogan -